Rabu, 27 Oktober 2010
Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudia mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin
Upaya Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar bagi Siswa yang Mengalami Kesulitan Belajar
Upaya Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar bagi Siswa yang Mengalami Kesulitan Belajar
A. Kajian Teori tentang Motivasi Belajar
1. Pengertian Motivasi Belajar
Oemar Hamalik (dalam Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 114) menyatakan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. Motivasi adalah keadaan individu yang terangsang dan terjadi jika suatu motif telah dihubungkan dengan suatu pengharapan yang sesuai (Max Darsono, 2001: 62).
Motivasi yakni sebagai suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu (Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 114). Motivasi adalah dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar manusia tersebut (Dimyati, 2002: 80).
Gagne dan Berliner (dalam Catharina Tri Anni, 2005 : 2) menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Morgan (dalam Catharina Tri Anni, 2005 : 2) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan relatif permanen yang terjadi karena hasil dari praktik atau pengalaman. Slavin (dalam Catharina Tri Anni, 2005 : 2) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman. Gagne (dalam Catharina Tri Anni, 2005 : 2) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang berlangsung selama periode waktu tertentu, dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses pertumbuhan. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003: 2). Dari beberapa pengertian di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2. Pentingnya Motivasi dalam Belajar
Sesuai dengan pengertian motivasi belajar, maka tidak perlu dipertanyakan lagi betapa pentingnya motivasi bagi siswa dalam belajar. Didalam kenyataan, motivasi belajar ini tidak selalu timbul dalam diri siswa. Sebagian siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi, tetapi sebagian lain motivasinya rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa pentingnya motivasi belajar adalah sebagai berikut: 1) Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan hasil akhir, 2) Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar yang dibandingkan dengan teman sebaya, 3) Mengarahkan kegiatan belajar, 4) Membesarkan semangat belajar, 5) Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja, siswa dilatih untuk menggunakan kekuatannya sehingga dapat berhasil.
Motivasi belajar juga penting diketahui oleh seorang guru. Pengetahuan dan pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa bemanfaat bagi guru, manfaat itu sebagai berikut: 1) Membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa, 2) Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa, 3) Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara bermacam-macam peran seperti sebagai penasihat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, dan penyemangat.
3. Jenis dan Sifat Motivasi
Motivasi sebagai kekuatan mental individu, memiliki tingkat-tingkat. Para ahli ilmu jiwa mempunyai pendapat yang berbeda tentang tingkat kekuatan tersebut. Perbedaan pendapat tersebut umumnya didasarkan pada penelitian tentang perilaku belajar pada hewan. Meskipun mereka berbeda pendapat tentang tingkat kekuatannya, tetapi mereka umumnya sependapat bahwa motivasi tersebut dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu motivasi primer dan motivasi sekunder.
4. Jenis Motivasi
1.Motivasi Primer
Motivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar atau motif bawaan. Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis atau jasmani manusia yang timbul akibat proses kimiawi fisiologik yang terdapat pada setiap orang.
2.Motivasi Sekunder
Motivasi sekunder adalah motivasi yang diperoleh dari belajar melalui pengalaman. Motivasi sekunder ini, oleh beberapa ahli disebut juga motivasi sosial. Lingdren (dalam Max Darsono, 2001 : 62) menyatakan bahwa motivasi sosial adalah motivasi yang dipelajari dan bahwa lingkungan individu memegang peran yang penting.
5. Sifat Motivasi
Berdasarkan sifatnya motivasi dapat dibagi menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
1. Motivasi Intrinsik.
Motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari diri sendiri dan tidak dipengaruhi oleh sesuatu di luar dirinya karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Orang yang tingkah lakunya digerakkan oleh motivasi intrinsik, baru akan puas kalau tingkah lakunya telah mencapai hasil tingkah laku itu sendiri. Misalnya seorang siswa menyelesaikan pekerjaan rumah tentang soal-soal matematika, bertujuan untuk memahami konsep-konsep matematika melalui penyelesaian soal-soal itu, bukan karena takut kepada guru atau ingin mendapat pujian dari guru.
2. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dalam diri seseorang karena pengaruh dari rangsangan di luar perbuatan yang dilakukannya. Tujuan yang diinginkan dari tingkah laku yang digerakkan oleh motivasi ekstrinsik terletak di luar tingkah laku itu. Misalnya siswa yang sedang menyelesaikan pekerjaan rumah, sekedar mematuhi perintah guru, kalau tidak dipatuhi guru akan memarahinya.
6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Di dalam kehidupan sehari-hari motivasi banyak dipelajari, termasuk motivasi dalam belajar. Oleh karena itu motivasi belajar dapat timbul tenggelam atau berubah, disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar adalah sebagai berikut:
1. Cita-cita atau Aspirasi
Cita-cita disebut juga aspirasi adalah suatu target yang ingin dicapai. Penentuan target ini tidak sama bagi semua siswa. Target ini diartikan sebagai tujuan yang ditetapkan dalam suatu kegiatan yang mengandung makna bagi seseorang.
2.Kemampuan Belajar
Dalam belajar dibutuhkan berbagai kemampuan. Kemampuan ini meliputi beberapa aspek psikis yang terdapat dalam diri siswa misalnya pengamatan, perhatian, ingatan, daya pikir, dan fantasi.
3.Kondisi Siswa
Kondisi siswa yang mempengaruhi motivasi belajar berkaitan dengan kondisi fisik, dan kondisi psikologis. Tetapi biasanya guru lebih cepat melihat kondisi fisik, karena lebih jelas menunjukkan gejalanya dari pada kondisi psikologis. Misalnya siswa yang kelihatan lesu, mengantuk, mungkin disebabkan waktu berangkat sekolah tidak sarapan, mungkin karena malam harinya begadang atau mungkin sedang sakit.
4.Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan merupakan unsur-unsur dari luar diri siswa yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Bagi guru hal ini penting, karena guru terlibat langsung dalam pembelajaran siswa. Guru harus berusaha mengelola kelas, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan untuk memotivasi belajar siswa.
5.Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar
Unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah unsur-unsur yang keberadaannya dalam proses belajar tidak stabil, kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah dan bahkan hilang sama sekali khususnya kondisi-kondisi yang sifatnya kondisional. Misalnya keadaan emosi siswa, gairah belajar, situasi dalam belajar, dan lain-lain.
6.Upaya Guru Membelajarkan Siswa
Upaya yang dimaksud di sini adalah bagaimana guru mempersiapkan diri dalam membelajarkan siswa mulai dari penguasaan materi, cara menyampaikannya, menarik perhatian siswa, mengevaluasi belajar siswa, dan lain-lain.
7.Prinsip-prinsip Motivasi Belajar
Motivasi mempunyai peranan yang strategis dalam aktivitas belajar seseorang. Tidak ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar. Agar peranan motivasi lebih optimal, maka prinsip-prinsip motivasi dalam belajar tidak hanya sekedar diketahui, tetapi harus diterangkan dalam aktivitas belajar-mengajar. Ada beberapa prinsip motivasi dalam belajar seperti dalam uraian berikut:
1.Motivasi sebagai Dasar Penggerak yang Mendorong Aktivitas Belajar
Seseorang melakukan aktivitas belajar karena ada yang mendorongnya. Motivasilah sebagai dasar penggeraknya yang mendorong seseorang untuk belajar. Minat merupakan kecenderungan psikologis yang menyenangi suatu objek, belum sampai melakukan kegiatan. Namun minat adalah motivasi dalam belajar. Minat merupakan potensi psikologi yang dapat dimanfaatkan untuk menggali motivasi. Bila seseorang sudah termotivasi untuk belajar, maka dia akan melakukan aktivitas belajar dalam rentang waktu tertentu. Oleh karena itulah, motivasi diakui sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar seseorang.
2.Motivasi Intrinsik Lebih Utama daripada Motivasi Ekstrinsik dalam Belajar
Dari seluruh kebijakan pengajaran, guru lebih banyak memutuskan memberikan motivasi ekstrinsik kepada setiap anak didik. Anak didik yang malas belajar sangat berpotensi untuk diberikan motivasi ekstrinsik oleh guru supaya dia rajin belajar. Efek yang tidak diharapkan dari pemberian motivasi ekstrinsik adalah kecenderungan ketergantungan anak didik terhadap segala sesuatu di luar dirinya. Selain kurang percaya diri, anak didik juga bermental pengharapan dan mudah terpengaruh. Oleh karena itu motivasi intrinsik lebih utama dalam belajar.
3.Motivasi Berupa Pujian Lebih Baik daripada hukuman
Meski hukuman tetap diberlakukan dalam memicu semangat belajar anak didik, tetapi masih lebih baik penghargaan berupa pujian. Setiap orang senang dihargai dan tidak suka dihukum dalam bentuk apa pun juga. Memuji orang lain berarti memberikan penghargaan atas prestasi kerja orang lain. Hal ini akan memberikan semangat kepada seseorang untuk lebih meningkatkan prestasi kerjanya. Tetapi pujian yang diucap itu tidak asal ucap, harus pada tempat dan kondisi yang tepat. Kesalahan pujian bisa bermakna mengejek.
4.Motivasi Berhubungan Erat dengan Kebutuhan dalam Belajar
Dalam kehidupan, anak didik membutuhkan penghargaan. Perhatian, ketenaran, status, martabat, dan sebagainya merupakan kebutuhan yang wajar bagi anak didik. Semuanya dapat memberikan motivasi bagi anak didik dalam belajar. Guru yang berpengalaman harus dapat memanfaatkan kebutuhan anak didik, sehingga dapat memancing semangat belajar anak didik agar menjadi anak yang gemar belajar. Anak didik pun giat belajar untuk memenuhi kebutuhannya demi memuaskan rasa ingin tahunya terhadap sesuatu.
5.Motivasi dapat Memupuk Optimisme dalam Belajar
Siswa yang mempunyai motivasi dalam belajar selalu yakin dapat menyelesaikan setiap pekerjaan. Dia yakin bahwa belajar bukan kegiatan yang sia-sia. Hasilnya akan berguna tidak hanya kini, tetapi juga di hari mendatang.
6.Motivasi Melahirkan Prestasi dalam Belajar
Dari berbagai hasil penilitian selalu menyimpulkan bahwa motivasi mempengaruhi prestasi belajar. Tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator baik buruknya prestasi belajar seorang anak didik. Anak didik menyenangi mata pelajaran tertentu dengan senang hati mempelajari mata pelajaran itu. Selain memiliki bukunya, ringkasannya juga rapi dan lengkap. Setiap ada kesempatan selalu mata pelajaran yang disenangi itu yang dibaca. Ulangan pun dilewati dengan mulus dengan prestasi yang gemilang.
8.Fungsi Motivasi dalam Belajar
Dalam kegiatan belajar mengajar pasti ditemukan anak didik yang malas berpartisipasi dalam belajar. Sedikit pun tidak bergerak hatinya untuk mengikuti pelajaran dengan cara mendengarkan penjelasan guru dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Sementara anak didik yang lain aktif berpartisipasi dalam kegiatan.
Fungsi motivasi dalam belajar akan diuraikan dalam pembahasan sebagai berikut:
1.Motivasi sebagai pendorong perbuatan
Pada mulanya anak didik tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari muncullah minatnya untuk belajar. Sesuatu yang belum diketahui itu akhirnya mendorong anak didik untuk belajar dalam rangka mencari tahu. Oleh karena itu, motivasi mempunyai fungsi sebagai pendorong perbuatan siswa.
2. Motivasi sebagai penggerak perbuatan
Dorongan psikologis yang melahirkan sikap siswa merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung, yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik yang berfungsi sebagai penggerak perbuatan siswa. Sikap berada dalam kepastian perbuatan dan akal pikiran mencoba membedah nilai yang terpatri dalam wacana, prinsip, dan hukum. Sehingga mengerti betul isi yang dikandungnya. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi dapat berfungsi sebagai penggerak perbuatan.
3.Motivasi sebagai pengarah perbuatan
Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang harus diabaikan. Sesuatu yang akan dicari anak didik merupakan tujuan belajar yang akan dicapainya. Tujuan belajar itulah sebagai pengarah yang memberikan motivasi pada anak didik dalam belajar. Segala sesuatu yang menggangu pikirannya dan dapat membuyarkan konsentrasinya diusahakan disingkirkan jauh-jauh. Itulah peranan motivasi yang dapat mengarahkan perbuatan anak didik dalam belajar.
9.Bentuk-bentuk Motivasi dalam Belajar
Dalam proses interaksi belajar mengajar, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik, diperlukan untuk mendorong anak didik agar tekun belajar. Ada beberapa bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar anak didik di kelas, sebagai berikut:
1.Memberi Angka
Angka adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik. Angka merupakan alat motivasi yang cukup memberikan rangsangan kepada anak didik untuk mempertahankan atau bahkan lebih meningkatkan prestasi belajar mereka di masa mendatang. Angka ini biasanya terdapat dalam buku rapor sesuai jumlah mata pelajaran yang diprogramkan dalam kurikulum.
2.Hadiah
Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang-kenangan. Dalam dunia pendidikan, hadiah bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Hadiah dapat diberikan kepada anak didik yang berprestasi tinggi, ranking satu, dua, atau tiga dari anak didik lainnya. Pemberian hadiah bisa juga diberikan dalam bentuk beasiswa atau dalam bentuk lain seperti alat tulis. Dengan cara itu anak didik akan termotivasi untuk belajar guna mempertahankan prestasi belajar yang telah mereka capai.
3.Kompetisi
Kompetisi adalah persaingan, dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong anak didik agar mereka bergairah dalam belajar. Persaingan, baik dalam bentuk individu maupun kelompok diperlukan dalam pendidikan. Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk menjadikan proses interaksi belajar mengajar yang kondusif. Bila iklim belajar yang kondusif terbentuk, maka setiap anak didik telah terlihat dalam kompetisi untuk menguasai bahan pelajaran yang diberikan. Selanjutnya, setiap anak didik sebagai individu melibatkan diri mereka mesing-masing ke dalam aktivitas belajar.
4.Ego-Involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Siswa akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.
5.Memberi Ulangan
Anak didik biasanya mempersiapkan diri dengan belajar jauh-jauh hari untuk menghadapi ulangan. Namun demikian, ulangan tidak selamanya dapat digunakan sebagai alat motivasi. Ulangan yang guru lakukan setiap hari dengan tidak terprogram, akan membosankan anak didik. Oleh karena itu, ulangan akan menjadi alat motivasi bila dilakukan secara akurat dengan teknik dan strategi yang sistematis.
6.Mengetahui Hasil
Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Dengan mengetahui hasil, anak didik terdorong untuk belajar lebih giat. Apalagi bila hasil belajar itu mangalami kemajuan, anak didik berusaha untuk mempertahankannya atau bahkan meningkatkan intensitas belajarnya guna mendapatkan prestasi belajar yang lebih baik di kemudian hari atau pada semester atau catur wulan berikutnya.
7.Pujian
Pujian yang diucapkan pada waktu yang tepat dapat dijadikan sebagai alat motivasi. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Guru bisa memanfaatkan pujian untuk memuji keberhasilan anak didik dalam mengerjakan pekerjaan di sekolah. Pujian diberikan sesuai dengan hasil kerja, bukan dibuat-buat atau bertentangan sama sekali dengan hasil kerja anak didik. Dengan begitu anak didik tidak antipati terhadap guru, tetapi merupakan figur yang disenangi dan dikagumi.
8.Hukuman
Meski hukuman sebagai reinforcement yang negatif, tetapi bila dilakukan dengan tepat dan bijak akan merupakan alat motivasi yang baik dan efektif. Hukuman akan merupakan alat motivasi bila dilakukan dengan pendekatan edukatif, bukan karena dendam. Pendekatan edukatif dimaksud di sini sebagai hukuman yang mendidik dan bertujuan memperbaiki sikap dan perbuatan anak didik yang dianggap salah. Sehingga dengan hukuman yang diberikan itu anak didik tidak mengulangi kesalahan atau pelanggaran. Minimal mengurangi frekuensi pelanggaran. Akan lebih baik bila anak didik berhenti melakukannya di hari mendatang. Oleh karena itu, hukuman hanya diberikan oleh guru dalam konteks mendidik seperti memberikan hukuman berupa membersihkan kelas, menyiangi rumput di halaman sekolah, membuat resume atau ringkasan, atau apa saja dengan tujuan mendidik.
9.Hasrat untuk Belajar
Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan segala kegiatan tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah pasti hasilnya akan lebih baik daripada anak didik yang tidak berhasrat untuk belajar. Diakui, hasrat untuk belajar adalah gejala psikologis yang tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan kebutuhan anak didik untuk mengetahui sesuatu dari objek yang akan dipelajarinya. Kebutuhan itulah yang menjadi dasar aktivitas anak didik dalam belajar. Tidak ada kebutuhan berarti tidak ada hasrat untuk belajar. Itu sama saja tidak ada minat untuk belajar.
10.Minat
Minat adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang berminat terhadap aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu sacara konsisten dengan rasa senang. Dengan kata lain, minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.
Ada beberapa macam cara yang dapat guru lakukan untuk membangkitkan minat anak didik sebagai berikut: a) Membandingkan adanya suatu kebutuhan pada diri anak didik, b) Menghubungkan bahan pelajaran yang diberikan dengan persoalan pengalaman yang dimiliki anak didik, c) Memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mendapatkan hasil belajar yang baik, d) Menggunakan berbagai macam bentuk dan teknik mengajar dalam konteks perbedaan individual anak didik.
11.Tujuan yang Diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh anak didik merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, dirasakan anak sangat berguna dan menguntungkan, sehingga menimbulkan gairah untuk terus belajar.
B. Kajian Teori tentang Kesulitan Belajar
1. Pengertian Kesulitan Belajar
Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi.
Kesulitan belajar itu sendiri merupakan terjemahan dari istilah bahasa Inggris learning disability. Kesulitan belajar merupakan suatu konsep multi disipliner yang digunakan di lapangan ilmu pendidikan, psikologi, maupun ilmu kedokteran.
The National Joint Committe for Learning Disabilities (dalam Mulyono Abdurrahman, 1999 : 7) mengemukakan definisi kesulitan belajar adalah sebagai berikut; kesulitan belajar menunjuk pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk kesulitan yang nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar, atau kemampuan dalam bidang studi matematika. Gangguan tersebut intrinsik, dan diduga disebabkan oleh adanya disfungsi sistem saraf pusat. Meskipun suatu kesulitan belajar mungkin terjadi bersamaan dengan adanya kondisi lain yang mengganggu (misalnya gangguan sensoris, tuna grahita, hambatan sosial dan emosional) atau berbagai pengaruh lingkungan misalnya perbedaan budaya, pembelajaran yang tidak tepat dan faktor-faktor psikogenik. Berbagai hambatan tersebut bukan penyebab atau pengaruh langsung.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar adalah gangguan perseptual, konseptual, memori, maupun ekspresif yang disebabkan adanya ancaman, hambatan, maupun gangguan sehingga siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya.
2. Macam-macam Kesulitan Belajar
Secara garis besar kesulitan belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok; 1) Kesulitan belajar yang berhubungan daengan perkembangan (developmental learning disabilities), dan 2) Kesulitan belajar akademik (academic learnimg disabilities). Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan mencakup gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahasa dan komunikasi, dan kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku sosial. Kesulitan belajar akademik menunjuk pada adanya kegagalan-kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan-kegagalan tersebut mencakup penguasaan ketrampilan menulis dan membaca.
Dari kedua kelompok kesulitan belajar tersebut dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu sebagai berikut.
1.Dilihat dari jenis kesulitan belajar: a) Ada yang berat, dan b) Ada yang sedang
2.Dilihat dari bidang studi yang dipelajari: a) Ada yang sebagian bidang studi, dan b) Ada yang keseluruhan bidang studi
3.Dilihat dari sifat kesulitannya: a) Ada yang sifatnya permanen atau menetap, dan b) Ada yang sifatnya hanya sementara
4.Dilihat dari segi faktor penyebabnya: a) Ada yang karena faktor inteligensi, dan b) Ada yang karena faktor non inteligensi
3. Karakteristik Siswa Berkesulitan Belajar
Seperti telah dijelaskan, murid yang mengalami kesulitan belajar itu memiliki hambatan-hambatan, sehingga menampakkan gejala-gejala yang bisa diamati oleh orang lain (guru, pembimbing).
Beberapa gejala sebagai pertanda adanya kesulitan belajar. Misalnya: 1) Menunujukkan prestasi rendah yang dicapai oleh kelompok kelas, 2) Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah, 3) Lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam semua hal, misalnya dalam mengerjakan soal-soal dalam menyelesaikan tugas-tugas, 4) Menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti: acuh tak acuh, berpura-pura, dusta, dan lain-lain,5) Menunjukkan tingkah laku yang berlainan, 6) Anak didik yang tergolong memiliki IQ tinggi, yang secara potensial mereka seharusnya meraih prestasi belajar yang tinggi, tetapi kenyataannya mereka mendapatkan prestasi belajar yang rendah,7) Anak didik yang selalu menunjukkan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian besar mata pelajaran, tetapi di lain waktu prestasi belajarnya menurun drastis.
Anak-anak yang mengalami kesulitan belajar itu bisa dikenal dengan sebutan prestasi rendah/kurang (under achiever). Anak ini tergolong memiliki IQ tinggi tetapi prestasinya dalam belajar rendah (di bawah rata-rata kelas).
Dari gejala-gejala yang tampak itu guru (pembimbing) bisa menginterprestasi bahwa ia kemungkinan mengalami kesulitan belajar. Disamping melihat gejala-gejala yang tampak, guru pun dapat mengadakan penyelidikan antara lain dengan:
1.Observasi, adalah cara memperoleh dengan langsung mengamati terhadap objek. Data-data yang dapat diperoleh melalui observasi, misalnya:
a.Bagaimana sikap siswa dalam mengkuti pelajaran, adalah tanda-tanda lelah, mudah mengantuk, sukar memusatkan perhatian pada pelajaran.
b.Bagaimana kelengkapan catatan, peralatan dalam pelajaran. Murid yang mengalami kesulitan belajar, catatan maupun peralatan belajarnya tidak lengkap.
2.Interviu, adalah cara mendapatkan data dengan wawancara langsung terhadap orang yang diselidiki atau terhadap orang lain yang dapat memberikan informasi tentang orang yang diselidiki.
3.Tes diagnostik, adalah suatu cara mengumpulkan data dengan tes. Untuk mengetahui murid yang mengalami kesulitan belajar tes meliputi, tes buatan guru (teacher made test) yang dikenal dengan tes diagnostik, dan tes psikologis. Sebab yang mengalami kesulitan belajar itu mungkin disebabkan IQ rendah, tidak memiliki bakat, dan lain-lain sehingga diperlukan tes psikologis.
4.Dokumentasi, adalah cara mengetahui sesuatu dengan melihat dokumen-dokumen, catatan-catatan, arsip-arsip yang berhubungan dengan orang yang diselidiki.
Untuk mengenal murid yang mengalami kesulitan belajar, bisa melihat: a) Riwayat hidupnya, b) Kehadiran murid di dalam mengikuti pelajaran, c) Memiliki daftar pribadinya, d) Catatan hariannya, e) Catatan kesehatannya, f) Daftar hadir di sekolah, g) Kumpulan ulangan, h) Rapor, dan lain-lain (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, 2004 : 96).
4. Hirarki Penyebab Kesulitan Belajar
Hirarki penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan, yaitu sebagai berikut :
1. Faktor Intern
a) Sebab yang bersifat fisik
Penyebab kesulitan belajar dapat terjadi karena gangguan yang bersifat fisik yaitu karena sakit, karena kurang sehat, dan karena cacat tubuh.
1. Karena sakit
Seorang yang sakit akan mengalami kelemahan pada fisiknya, sehingga saraf sensoris dan motorisnya lemah. Akibatnya rangsangan yang diterima melalui indranya tidak dapat diteruskan ke otak.
2. Karena kurang sehat.
Anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah capek, mengantuk, pusing, daya konsentrasinya hilang, saraf otak tidak mampu bekerja secara optimal dalam memproses, mengelola menginterpretasi dan mengorganisasi bahan pelajaran melalui indranya.
3. Karena cacat tubuh.
Cacat tubuh dibedakan atas: a) Cacat tubuh yang ringan seperti kurang pendengaran, kurang pengelihatan, gangguan psikomotor, b) Cacat tubuh yang tetap (serius) seperti buta, tuli, bisu, hilang tangan dan kakinya.
Bagi golongan yang serius, maka harus masuk pendidikan khusus seperti SLB. Bagi golongan yang ringan, masih dapat mengikuti pendidikan umum, asal guru memperhatikan dan menempuh placement yang cepat, misalnya:
1)Bagi anak yang kurang mendengar, mereka ditempatkan pada deretan paling depan, agar suara guru masih keras terdengar.
2)Anak yang kurang pengelihatannya, misalnya rabun jauh dan rabun dekat. Maka yang rabun jauh ditempatkan pada meja paling depan dan yang rabun dekat ditempatkan pada meja paling belakang agar dapat melihat tulisan di papan tulis.
b) Sebab yang bersifat rohani
1. Inteligensi
Anak yang normal dapat menamatkan SD tepat pada waktunya. Mereka yang memiliki IQ 110 - 140 digolongkan cerdas, 140 ke atas digolongkan jenius. Mereka yang memiliki IQ kurang dari 90 tergolong lemah mental (mentally deffective). Anak inilah yang banyak mengalami kesulitan belajar. Karena itu guru/pembimbing harus meneliti IQ anak dengan bantuan seorang psikologi agar dapat melayani murid-muridnya.
2.Bakat
Bakat adalah potensi/kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir. Setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda. Seseorang yang berbakat musik mungkin dibidang lain ia ketinggalan. Seseorang yang berbakat teknik mungkin dibidang olah raga lemah. Jadi seseorang akan mudah mempelajari yang sesuai dengan bakatnya. Apabila seseorang harus mempelajari bahan yang lain dari bakatnya akan cepat bosan, mudah putus asa, tidak senang.
3.Minat
Tidak hanya minat seseorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar. Belajar yang tidak ada minatnya mungkin tidak sesuai dengan bakatnya, tidak sesuai dengan kebutuhan, tidak sesuai dengan kecakapan, bahkan banyak menimbukan problema pada dirinya. Karena itu pelajaran pun tak pernah terjadi proses dalam otak, akibatnya timbul kesulitan.
4.Motivasi Motivasi berfungsi mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar motivasinya semakin besar kesuksesan belajarnya. Sebaliknya mereka yang motivasinya lemah, tampak acuh tak acuh, mudah putus asa, perhatiannya tidak tertuju pada pelajaran, suka mengganggu kelas, sering meninggalkan pelajaran, akibatnya banyak mengalami kesulitan belajar. Oleh karena itu, besar kecilnya motivasi siswa dalam belajar sangat berpengaruh dalam kesuksesan belajar.
5.Faktor kesehatan mental
Dalam belajar tidak hanya menyangkut segi intelektual, tetapi menyangkut segi kesehatan mental dan emosional. Individu dalam hidupnya selalu mempunyai kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan. Apabila kebutuhan itu tidak terpenuhi, akan membawa masalah-masalah emosional dan bentuk-bentuk mal adjusment. Keadaan seperti ini akan menimbulkan kesulitan belajar, sebab dirasakan tidak mendatangkan kebahagiaan.
6.Tipe-tipe khusus seorang pelajar
Ada tipe visual, auditif, dan motorik, yaitu sebagai berikut:
a)Seorang bertipe visual akan cepat mempelajari bahan-bahan yang disajikan secara tertulis, bagan grafik dan gambar. Sebaliknya akan merasa sulit belajar jika dihadapkan dalam bentuk suara atau gerakan.
b)Anak yang bertipe auditif, mudah mempelajari bahan yang disajikan dalam bentuk suara (ceramah). Sedangkan pelajaran yang disajikan dalam bentuk tulisan, perabaan, gerakan-gerakan, ia akan mengalami kesulitan.
c)Individu yang bertipe motorik, mudah mempelajari bahan yang berupa tulisan, gerakan, dan sulit mempelajari bahan yang berupa suara dan pengelihatan.
2.Faktor Ekstern
a)Faktor Keluarga
Keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dan pertama. Tetapi dapat juga sebagai faktor penyebab kesulitan belajar. Yang termasuk faktor ini antara lain adalah sebagai berikut.
1.Faktor Orang Tua
a. Cara mendidik anak
Orang tua yang tidak atau kurang memperhatikan pendidikan anak-anaknya, mungkin acuh tak acuh, tidak memperhatikan kemajuan anak-anaknya, akan menjadi penyebab kesulitan belajarnya. Orang tua yang bersifat kejam, otoriter, akan menimbulkan mental yang tidak sehat bagi anak. Hal ini akan berakibat anak tidak dapat tentram, tidak senang di rumah, ia pergi mencari teman sebayanya, hingga lupa belajar. Pada umumnya orang tua tidak memberikan dorongan kepada anaknya, hingga anak tidak menyukai belajar, bahkan karena sikap orang tuanya yang salah, anak bisa benci belajar.
b. Hubungan Orang Tua dan Anak
Faktor ini penting sekali dalam menentukan kemajuan belajar anak. Yang dimaksud hubungan di sini adalah kasih sayang penuh pengertian, atau bahkan kebencian, sikap keras, acuh tak acuh, memanjakan dan lain-lain. Kurangnya kasih sayang akan menimbulkan emosional insecurity. Demikian juga sikap keras, kajam, acuh tak acuh akan menimbulkan hal yang serupa. Kasih sayang dari orang tua dapat berupa: 1) Apakah orang tua sering meluangkan waktunya untuk omong-omong bergurau dengan anak-anaknya. 2) Biasakan orang tua membicarakan kebutuhan keluarga dengan anak-anaknya, seorang anak akan mengalami kesulitan belajar karena faktor-faktor tersebut.
2.Suasana Rumah/Keluarga
Suasana rumah atau keluarga yang sangat ramai/gaduh, selalu tegang, selalu banyak masalah diantara anggota keluarga antara ayah dan ibu selalu ada masalah atau membisu, menyebabkan anak tidak tahan di rumah, sehingga tidak mustahil kalau prestasi belajar anak menurun. Untuk itu hendaknya suasana rumah dibuat menyenangkan, tentram, damai, harmonis, agar anak betah tinggal di rumah. Keadaan ini akan menguntungkan bagi kemajuan belajar anak.
3.Keadaan Ekonomi Keluarga
Keadaan ekonomi digolongkan dalam:
(a) Ekonomi yang kurang atau miskin
Keadaan ini akan menimbulkan kurangnya alat-alat belajar, kurangnya biaya yang disediakan olah orang tua, dan tidak mempunyai tempat belajar yang baik. Keadaan seperti itu akan menghambat kemajuan anak. Faktor biaya merupakan faktor yang sangat penting, karena belajar dan kelangsungannya sangat memerlukan biaya. Misalnya untuk membeli alat-alat, uang sekolah, dan biaya-biaya lainnya. Maka keluarga yang miskin akan merasa berat untuk mengeluarkan biaya yang bermacam-macam itu. Karena keuangan digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Keluarga yang miskin juga tidak dapat menyediakan tempat untuk belajar yang memadai, dimana tempat belajar itu merupakan tempat terlaksananya belajar secara efisien dan efektif.
(b) Ekonomi yang berlebihan atau kaya
Keadaan ini sebaliknya dari keadaan yang pertama, dimana ekonomi keluarga berlimpah ruah. Mereka akan menjadi segan belajar karena ia terlalu banyak bersenang-senang. Mungkin juga mereka terlalu dimanja oleh orang tua, orang tua tidak tahan melihat anaknya belajar dengan bersusah payah. Keadaan seperti ini akan dapat menghambat kemajuan belajar.
b) Faktor Sekolah
1. Guru
Guru dapat menjadi penyebab kesulitan belajar, apabila:
a.Guru tidak kualified, baik dalam pengambilan metode yang digunakan atau dalam mata pelajaran yang dipegangnya. Hal ini bisa saja terjadi, karena mata pelajaran yang dipegangnya kurang sesuai, sehingga kurang menguasai, lebih-lebih kurang persiapan, sehingga cara menerangkan kurang jelas, sukar dimengerti oleh murid-muridnya.
b.Hubungan guru dengan murid kurang baik. Hal ini bermula pada sifat dan sikap guru yang kurang disenangi oleh murid-muridnya, seperti: 1) Kasar, suka marah, suka mengejek, tak pernah senyum, tak suka membantu anak, suka membentak, dan lain-lain, 2) Tak pandai menerangkan, sinis, sombong, 3) Menjengkelkan, pelit dalam memberi angka, tidak adil, dan lain-lain, 4) Guru menuntut standar pelajaran di atas kemampuan anak. Hal ini dapat mengakibatkan hanya sebagian kecil muridnya dapat berhasil dengan baik, 5) Guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha diagnosis kesulitan belajar. Misalnya dalam bakat, minat, sifat, kebutuhan anak-anak, dan sebagainya, 6) Metode mengajar guru yang dapat menimbulkan kesulitan belajar, 7) Metode mengajar yang mendasarkan diri pada latihan mekanis tidak didasarkan pada pengertian, 8) Guru dalam mengajar tidak menggunakan alat peraga yang memungkinkan semua alat indranya berfungsi, 9) Metode mengajar yang menyebabkan murid pasif, sehingga anak tidak ada aktivitas, 10) Metode mengajar tidak menarik, kemungkinan materinya tinggi, atau tidak menguasai bahan, 11) Guru hanya menggunakan satu metode saja dan tidak bervariasi.
2.Alat
Alat pelajaran yang kurang lengkap membuat penyajian pelajaran yang tidak baik. Terutama pelajaran yang bersifat praktikum. Kurangnya alat laboratorium akan banyak menimbulkan kesulitan dalam belajar. Timbulnya alat-alat itu akan menimbulkan perubahan metode mengajar guru, segi dalamnya ilmu pengetahuan pada pikiran anak, memenuhi tuntutan dari bermacam-macam tipe anak. Tiadanya alat-alat tersebut, guru cenderung menggunakan metode ceramah yang menimbulkan kepasifan bagi anak, sehingga akan timbul kesulitan belajar.
3. Kondisi Gedung
Terutama ditunjukkan pada ruang kelas/ruangan tempat belajar anak. Ruangan harus memenuhi syarat kesehatan seperti: a) Ruangan harus berjendela, ventilasi cukup, udara segar dapat masuk ruangan, sinar dapat menerangi ruangan, b) Dinding harus bersih, putih, dan tidak terlihat kotor, c) Lantai tidak becek, licin atau kotor, d) Keadaan gedung jauh dari keramaian.
Apabila beberapa hal tersebut tidak terpenuhi, maka situasi dan kondisi belajar akan kurang baik. Anak-anak selalu gaduh, sehingga memungkinkan pelajaran terhambat.
4. Kurikulum
Kurikulum yang kurang baik, misalnya: a) Bahan-bahannya terlalu tinggi,b) Pembagian bahan tidak seimbang (kelas 1 banyak pelajaran, sedangkan kelas-kelas di atasnya sedikit pelajaran), c) Adanya pendataan materi. Hal ini akan membawa kesulitan belajar bagi murid-murid. Sebaliknya kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan anak, akan membawa kesuksesan dalam belajar.
5. Waktu Sekolah dan Disiplin Waktu Kurang
Apabila sekolah masuk sore, siang, atau malam, maka kondisi anak tidak lagi dalam keadaan yang optimal untuk menerima pelajaran. Sebab energi sudah berkurang, di samping udara yang relatif panas di siang hari, juga dapat mempercepat proses kelelahan. Karena itu waktu yang baik untuk belajar adalah pagi hari.
Disamping itu pelaksanaan disiplin kurang, misalnya murid-murid liar, sering terlambat datang, tugas yang diberikan tidak dikerjakan, kewajibannya dilalaikan, sekolah berjalan tanpa kendali. Lebih-lebih gurunya kurang disiplin akan banyak mengalami hambatan dalam belajar.
c) Faktor Mass Media dan Lingkungan Sosial
1. Faktor Mass Media
Faktor mass media meliputi: bioskop, TV, surat kabar, majalah, buku- buku komik yang ada disekeliling kita. Hal-hal itu akan menghambat belajar apabila anak terlalu banyak waktu yang dipergunakan untuk itu, hingga lupa tugasnya untuk belajar.
2. Lingkungan Sosial
a. Teman bergaul
Anak yang bergaul dengan teman yang tidak sekolah, ia akan malas belajar. Sebab cara hidup anak yang bersekolah berlainan dengan anak yang tidak sekolah.
b. Lingkungan Tetangga
Corak kehidupan tetangga misalnya sering main judi, minum minuman keras, menganggur, tidak suka belajar, akan mempengaruhi anak-anak yang bersekolah.
c. Aktivitas dalam Masyarakat
Terlalu banyak berorganisasi, kursus ini dan itu, akan menyebabkan belajar anak akan terbengkalai.
C. Upaya Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar bagi Siswa yang Mengalami Kesulitan Belajar
Seperti diketahui, motivasi belajar pada siswa tidak sama kuatnya. Pada siswa yang motivasinya bersifat intrinsik, kemauan belajarnya lebih kuat dan tidak tergantung pada faktor di luar dirinya. Sebaliknya dengan siswa yang motivasi belajarnya bersifat ekstrinsik, kemauan untuk belajar sangat tergantung pada kondisi di luar dirinya. Namun demikian, di dalam kenyataan motivasi ekstrinsik inilah yang banyak terjadi, terutama pada anak-anak dan remaja. Oleh karena itu, upaya menimbulkan dan meningkatkan motivasi belajar, khususnya oleh guru merupakan suatu hal yang perlu dan wajar (Max Darsono, 2001 : 68).
Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa adalah sebagai berikut:
1. Mengoptimalkan Penerapan Prinsip-prinsip Belajar
Ada beberapa prinsip yang terkait dalam proses belajar, misalnya perhatian siswa, keaktifan siswa, keterlibatan langsung siswa, materi pelajaran yang merangsang, dan lain-lain. Agar motivasi belajar siswa meningkat, hendaknya guru berusaha menciptakan situasi kelas yang kondusif, sehingga perhatian, keterlibatan siswa, dan lain-lain yang termasuk prinsip balajar dapat berfungsi secara optimal.
2. Mengoptimalkan Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar
Unsur-unsur dinamis dalam belajar maksudnya adalah unsur-unsur yang keberadaannya dapat berubah-ubah, dari tidak ada menjadi ada, dari keadaan lemah menjadi menguat. Unsur-unsur ini meliputi bahan mengajar dan upaya pengadaannya, alat bantu mengajar dan upaya pengadaannya, suasana belajar dan upaya pengembangannya, kondisi siswa dan upaya penyiapannya.
3. Mengoptimalkan Pemanfaatan Pengalaman yang Telah Dimiliki Siswa
Siswa lebih senang mempelajari materi pelajaran yang baru, apabila siswa mempunyai latar belakang untuk mempelajari materi baru tersebut. Oleh karena itu, guru harus pandai memilih contoh-contoh untuk menjelaskan suatu konsep baru, contoh-contoh ini hendaknya banyak terdapat di lingkungan siswa.
4. Mengembangkan Cita-cita atau Aspirasi Siswa
Setiap siswa mempunyai cita-cita dalam belajar. Namun tidak semua siswa dapat mencapai kesuksesan tersebut. Kesuksesan biasanya dapat meningkatkan aspirasi, dan kegagalan mengakibatkan aspirasi rendah. Untuk meningkatkan aspirasi ini, hendaknya guru tidak menjadikan siswa selalu gagal. Kegagalan yang berkepanjangan menyebabkan siswa menjadi tidak bergairah dalam mencapai cita-citanya. Sebaiknya guru memberi kesempatan kepada siswa untuk merumuskan tujuan belajar yang sesuai dengan kemampuannya, sehingga motivasi mereka untuk mencapai tujuan itu lebih kuat.
Aktivitas belajar bukanlah suatu kegiatan yang dilakukan tanpa pengaruh dari faktor lain. Aktivitas belajar merupakan kegiatan yang melibatkan unsur jiwa dan raga. Belajar tidak akan pernah dilakukan tanpa suatu dorongan yang kuat baik dalam dirinya yang lebih utama maupun dari luar sebagai upaya lain yang tidak kalah pentingnya. Faktor lain yang mempengaruhi aktivitas belajar seseorang itu dalam pembahasan ini disebut motivasi. Motivasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam aktivitas belajar siswa. Tidak ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar.
Prestasi belajar yang memuaskan dapat diraih oleh setiap siswa jika mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai ancaman, hambatan, dan gangguan. Salah satu contoh dari ancaman tersebut adalah kurangnya motivasi belajar siswa. Pada tingkat tertentu memang ada siswa yang dapat mengatasi kesulitan belajarnya, tanpa harus melibatkan orang lain. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, karena siswa belum mampu mengatasi kesulitan belajarnya, maka bantuan guru atau orang lain sangat diperlukan oleh siswa tersebut.
Berikut adalah upaya guru dalam meningkatkan motivasi belajar bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar:
1. Pergunakan Pujian Verbal
Kata-kata seperti ”bagus”, ”baik”, ”pekerjaanmu baik”, yang diucapkan guru kepada siswa setelah selesai mengerjakan yang diperintahkan atau mendekati tingkah laku yang diinginkan, merupakan pembangkit motivasi yang besar.
2. Pergunakan Tes dan Nilai Secara Bijaksana
Kenyataan bahwa tes dan nilai dipakai sebagai dasar berbagai hadiah sosial menyebabkan tes dan nilai dapat menjadi suatu kekuatan untuk memotivasi siswa. Siswa belajar karena ada keuntungan yang diperoleh dengan nilai yang tinggi. Dengan demikian, memberikan tes dan nilai mempunyai efek dalam memotivasi siswa untuk belajar.
3. Membangkitkan Rasa Ingin Tahu dan Hasrat Eksplorasi
Di dalam diri siswa ada potensi yang besar yaitu rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Potensi ini dapat ditumbuhkan dengan menyediakan lingkungan belajar yang kreatif. Rasa ingin tahu pada anak didik melahirkan kegiatan yang positif, yaitu eksplorasi. Keinginan siswa untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru merupakan desakan eksploratif dari dalam diri siswa. Motivasi akan terus meningkat jika dalam diri siswa sudah ada rasa ingin tahu dan hasrat eksplorasi.
4. Melakukan Hal yang Luar Biasa
Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, guru harus dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, misalnya menceritakan masalah guru dalam belajar di masa lalu ketika sedang sekolah seperti mereka, sehingga setelah mendengar cerita dari guru siswa akan lebih bersemangat dalam belajar dan prestasi siswa akan meningkat. Melakukan hal yang luar biasa merupakan upaya yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan motivasi belajar terutama bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar.
5. Merangsang Hasrat Siswa
Hasrat siswa perlu dirangsang dengan memberikan sedikit contoh hadiah yang akan diterimanya bila ia berusaha dan berprestasi dalam belajar. Hadiah yang diberikan kepada siswa dapat berupa benda, pujian verbal, nilai yang baik dan lain-lain yang akan merangsang hasrat siswa sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
6. Memanfaatkan Apersepsi Siswa
Pengalaman siswa baik yang didapat di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah dapat dimanfaatkan ketika guru sedang menjelaskan materi pelajaran. Siswa mudah menerima dan menyerap materi pelajaran dengan menghubungkan bahan pelajaran yang telah dikuasainya. Bahan apersepsi merupakan seperangkat materi yang dikuasai yang memudahkan untuk menuju materi pelajaran yang baru.
7. Minta Kepada Siswa untuk Mempergunakan Hal-hal yang Sudah Dipelajari Sebelumnya
Hal ini menguatkan belajar siswa dan sekaligus menanamkan suatu penghargaan pada diri siswa, bahwa apa yang sedang dipelajarinya sekarang, juga berhubungan dengan pengajaran yang akan datang.
8. Perkecil Daya Tarik Sistem Motivasi yang Bertentangan
Kadang agar diterima oleh teman-temannya, siswa melakukan hal-hal yang tidak diinginkan oleh guru. Dalam hal ini guru sebaiknya melibatkan ketua kelas yang berperan sebagai pemimpin dan sebagai contoh siswa yang lain di kelas itu, dalam aktivitas yang berguna (menyusun tes, mewakili sekolah dalam pameran ilmiah, dan sebagainya) sehingga teman-temannya akan meniru melakukan hal-hal yang positif.
Dalam interaksi edukatif tidak semua siswa termotivasi untuk bidang studi tertentu. Motivasi siswa untuk menerima pelajaran tertentu berbeda-beda, ada siswa yang memiliki motivasi yang tinggi, ada yang sedang, dan ada juga yang sedikit sekali memiliki motivasi. Hal ini perlu disadari oleh guru agar dapat memberi motivasi yang bervariasi kepada siswa.
Jika terdapat siswa yang kurang termotivasi untuk belajar, peranan motivasi ekstrinsik yang bersumber dari luar diri siswa sangat diperlukan. Motivasi ekstrinsik ini di berikan bisa dalam bentuk pujian, hadiah, dan lain-lain. Tugas guru sekarang adalah bagaimana menciptakan interaksi edukatif yang dapat mendorong rasa ingin tahu, ingin mencoba, bersikap mandiri, dan ingin maju. Siswa dapat tumbuh dan berkembang yang pada akhirnya menopang keberhasilan pengajaran yang gemilang.
Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh manusia untuk dapat menyesuaikan dan akhirnya untuk mendapatkan kepuasan ini disebut dinamika manusia. Tugas guru dalam memberikan motivasi siswa adalah mengingat adanya dinamika siswa dan membimbing dinamika siswa. Maksudnya ialah supaya anak yang belajar dalam membentuk dinamika manusia ini tidak melalui pengalaman-pengalaman yang kurang baik.
Adanya pandangan beberapa ahli yang menekankan segi-segi tertentu pada motivasi tersebut justru mengisyaratkan guru bertindak taktis dan kreatif dalam mengelola motivasi belajar siswa. Motivasi belajar dihayati, dialami, dan merupakan kekuatan mental siswa dalam belajar. Dari siswa, motivasi tersebut perlu dihidupkan terus untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan dijadikan dampak pengiring, yang selanjutnya menimbulkan program belajar sepanjang hayat, sebagai perwujudan emansipasi kemandirian tersebut terwujud dalam cita-cita atau aspirasi siswa, kemampuan siswa, kondisi siswa, dan dinamika siswa dalam belajar. Dari guru, motivasi belajar pada siswa berada dalam lingkup program dan tindak pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus berupaya untuk meningkatkan motivasi belajar.
Prestasi belajar yang baik dapat diraih oleh setiap siswa jika mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai ancaman, hambatan, dan gangguan. Namun sayangnya ancaman, hambatan, dan gangguan dialami oleh siswa tertentu. Sehingga mereka mengalami kesulitan dalam belajar. Di setiap sekolah dalam berbagai jenis dan tingkatan pasti memiliki siswa yang berkesulitan belajar. Masalah yang satu ini tidak hanya dirasakan oleh sekolah modern di perkotaan, tapi juga dimiliki oleh sekolah tradisional di pedesaan dengan segala keminiman dan kesederhanaannya. Hanya yang membedakannya pada sifat, jenis, dan faktor penyebabnya.
Setiap kali kesulitan belajar siswa yang satu dapat diatasi, tetapi pada waktu yang lain muncul lagi kasus kesulitan belajar siswa yang lain. Dalam setiap bulan atau bahkan dalam setiap minggu tidak jarang ditemukan siswa yang berkesulitan belajar. Walaupun sebenarnya masalah yang mengganggu keberhasilan belajar siswa ini sangat tidak disenangi oleh guru dan bahkan oleh siswa itu sendiri. Tetapi disadari atau tidak kesulitan belajar datang pada siswa. Namun, begitu usaha demi usaha harus diupayakan dengan berbagai strategi dan pendekatan agar siswa dapat dibantu keluar dari kesulitan belajar. Sebab bila tidak, siswa akan mengalami kegagalan dalam meraih prestasi belajar yang memuaskan.
Kenyataan-kenyataan di atas membuktikan betapa pentingnya meningkatkan motivasi belajar siswa terutama bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Guru sebagai orang yang membelajarkan siswa sangat berkepentingan dengan masalah ini. Oleh karena itu, sebagai guru atau calon guru sebisa mungkin kita harus selalu berupaya untuk dapat meningkatkan motivasi belajar terutama bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dengan menggunakan berbagai upaya yang telah diuraikan pada bab sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Catharina Tri Anni. 2005. Psikologi Belajar. Semarang : UPT. MKK UNNES.
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Max Darsono. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Semarang : IKIP Semarang Press.
Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Mulyono Abdurrahman. 1996. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Mustaqim. 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.
Ngalim Purwanto. 2006. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.
Sunaryo Kartadinata dan Nyoman Dantes. 1997. Landasan-landasan Pendidikan Sekolah Dasar. Jakarta : Depdikbud.
Syaiful Bahri Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Syaiful Bahri Djamarah. 2002. Rahasia Sukses Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Syaiful Bahri Djamarah. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta : Rineka Cipta.
A. Kajian Teori tentang Motivasi Belajar
1. Pengertian Motivasi Belajar
Oemar Hamalik (dalam Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 114) menyatakan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. Motivasi adalah keadaan individu yang terangsang dan terjadi jika suatu motif telah dihubungkan dengan suatu pengharapan yang sesuai (Max Darsono, 2001: 62).
Motivasi yakni sebagai suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu (Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 114). Motivasi adalah dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar manusia tersebut (Dimyati, 2002: 80).
Gagne dan Berliner (dalam Catharina Tri Anni, 2005 : 2) menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Morgan (dalam Catharina Tri Anni, 2005 : 2) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan relatif permanen yang terjadi karena hasil dari praktik atau pengalaman. Slavin (dalam Catharina Tri Anni, 2005 : 2) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman. Gagne (dalam Catharina Tri Anni, 2005 : 2) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang berlangsung selama periode waktu tertentu, dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses pertumbuhan. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003: 2). Dari beberapa pengertian di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2. Pentingnya Motivasi dalam Belajar
Sesuai dengan pengertian motivasi belajar, maka tidak perlu dipertanyakan lagi betapa pentingnya motivasi bagi siswa dalam belajar. Didalam kenyataan, motivasi belajar ini tidak selalu timbul dalam diri siswa. Sebagian siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi, tetapi sebagian lain motivasinya rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa pentingnya motivasi belajar adalah sebagai berikut: 1) Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan hasil akhir, 2) Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar yang dibandingkan dengan teman sebaya, 3) Mengarahkan kegiatan belajar, 4) Membesarkan semangat belajar, 5) Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja, siswa dilatih untuk menggunakan kekuatannya sehingga dapat berhasil.
Motivasi belajar juga penting diketahui oleh seorang guru. Pengetahuan dan pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa bemanfaat bagi guru, manfaat itu sebagai berikut: 1) Membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa, 2) Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa, 3) Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara bermacam-macam peran seperti sebagai penasihat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, dan penyemangat.
3. Jenis dan Sifat Motivasi
Motivasi sebagai kekuatan mental individu, memiliki tingkat-tingkat. Para ahli ilmu jiwa mempunyai pendapat yang berbeda tentang tingkat kekuatan tersebut. Perbedaan pendapat tersebut umumnya didasarkan pada penelitian tentang perilaku belajar pada hewan. Meskipun mereka berbeda pendapat tentang tingkat kekuatannya, tetapi mereka umumnya sependapat bahwa motivasi tersebut dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu motivasi primer dan motivasi sekunder.
4. Jenis Motivasi
1.Motivasi Primer
Motivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar atau motif bawaan. Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis atau jasmani manusia yang timbul akibat proses kimiawi fisiologik yang terdapat pada setiap orang.
2.Motivasi Sekunder
Motivasi sekunder adalah motivasi yang diperoleh dari belajar melalui pengalaman. Motivasi sekunder ini, oleh beberapa ahli disebut juga motivasi sosial. Lingdren (dalam Max Darsono, 2001 : 62) menyatakan bahwa motivasi sosial adalah motivasi yang dipelajari dan bahwa lingkungan individu memegang peran yang penting.
5. Sifat Motivasi
Berdasarkan sifatnya motivasi dapat dibagi menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
1. Motivasi Intrinsik.
Motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari diri sendiri dan tidak dipengaruhi oleh sesuatu di luar dirinya karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Orang yang tingkah lakunya digerakkan oleh motivasi intrinsik, baru akan puas kalau tingkah lakunya telah mencapai hasil tingkah laku itu sendiri. Misalnya seorang siswa menyelesaikan pekerjaan rumah tentang soal-soal matematika, bertujuan untuk memahami konsep-konsep matematika melalui penyelesaian soal-soal itu, bukan karena takut kepada guru atau ingin mendapat pujian dari guru.
2. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dalam diri seseorang karena pengaruh dari rangsangan di luar perbuatan yang dilakukannya. Tujuan yang diinginkan dari tingkah laku yang digerakkan oleh motivasi ekstrinsik terletak di luar tingkah laku itu. Misalnya siswa yang sedang menyelesaikan pekerjaan rumah, sekedar mematuhi perintah guru, kalau tidak dipatuhi guru akan memarahinya.
6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Di dalam kehidupan sehari-hari motivasi banyak dipelajari, termasuk motivasi dalam belajar. Oleh karena itu motivasi belajar dapat timbul tenggelam atau berubah, disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar adalah sebagai berikut:
1. Cita-cita atau Aspirasi
Cita-cita disebut juga aspirasi adalah suatu target yang ingin dicapai. Penentuan target ini tidak sama bagi semua siswa. Target ini diartikan sebagai tujuan yang ditetapkan dalam suatu kegiatan yang mengandung makna bagi seseorang.
2.Kemampuan Belajar
Dalam belajar dibutuhkan berbagai kemampuan. Kemampuan ini meliputi beberapa aspek psikis yang terdapat dalam diri siswa misalnya pengamatan, perhatian, ingatan, daya pikir, dan fantasi.
3.Kondisi Siswa
Kondisi siswa yang mempengaruhi motivasi belajar berkaitan dengan kondisi fisik, dan kondisi psikologis. Tetapi biasanya guru lebih cepat melihat kondisi fisik, karena lebih jelas menunjukkan gejalanya dari pada kondisi psikologis. Misalnya siswa yang kelihatan lesu, mengantuk, mungkin disebabkan waktu berangkat sekolah tidak sarapan, mungkin karena malam harinya begadang atau mungkin sedang sakit.
4.Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan merupakan unsur-unsur dari luar diri siswa yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Bagi guru hal ini penting, karena guru terlibat langsung dalam pembelajaran siswa. Guru harus berusaha mengelola kelas, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan untuk memotivasi belajar siswa.
5.Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar
Unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah unsur-unsur yang keberadaannya dalam proses belajar tidak stabil, kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah dan bahkan hilang sama sekali khususnya kondisi-kondisi yang sifatnya kondisional. Misalnya keadaan emosi siswa, gairah belajar, situasi dalam belajar, dan lain-lain.
6.Upaya Guru Membelajarkan Siswa
Upaya yang dimaksud di sini adalah bagaimana guru mempersiapkan diri dalam membelajarkan siswa mulai dari penguasaan materi, cara menyampaikannya, menarik perhatian siswa, mengevaluasi belajar siswa, dan lain-lain.
7.Prinsip-prinsip Motivasi Belajar
Motivasi mempunyai peranan yang strategis dalam aktivitas belajar seseorang. Tidak ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar. Agar peranan motivasi lebih optimal, maka prinsip-prinsip motivasi dalam belajar tidak hanya sekedar diketahui, tetapi harus diterangkan dalam aktivitas belajar-mengajar. Ada beberapa prinsip motivasi dalam belajar seperti dalam uraian berikut:
1.Motivasi sebagai Dasar Penggerak yang Mendorong Aktivitas Belajar
Seseorang melakukan aktivitas belajar karena ada yang mendorongnya. Motivasilah sebagai dasar penggeraknya yang mendorong seseorang untuk belajar. Minat merupakan kecenderungan psikologis yang menyenangi suatu objek, belum sampai melakukan kegiatan. Namun minat adalah motivasi dalam belajar. Minat merupakan potensi psikologi yang dapat dimanfaatkan untuk menggali motivasi. Bila seseorang sudah termotivasi untuk belajar, maka dia akan melakukan aktivitas belajar dalam rentang waktu tertentu. Oleh karena itulah, motivasi diakui sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar seseorang.
2.Motivasi Intrinsik Lebih Utama daripada Motivasi Ekstrinsik dalam Belajar
Dari seluruh kebijakan pengajaran, guru lebih banyak memutuskan memberikan motivasi ekstrinsik kepada setiap anak didik. Anak didik yang malas belajar sangat berpotensi untuk diberikan motivasi ekstrinsik oleh guru supaya dia rajin belajar. Efek yang tidak diharapkan dari pemberian motivasi ekstrinsik adalah kecenderungan ketergantungan anak didik terhadap segala sesuatu di luar dirinya. Selain kurang percaya diri, anak didik juga bermental pengharapan dan mudah terpengaruh. Oleh karena itu motivasi intrinsik lebih utama dalam belajar.
3.Motivasi Berupa Pujian Lebih Baik daripada hukuman
Meski hukuman tetap diberlakukan dalam memicu semangat belajar anak didik, tetapi masih lebih baik penghargaan berupa pujian. Setiap orang senang dihargai dan tidak suka dihukum dalam bentuk apa pun juga. Memuji orang lain berarti memberikan penghargaan atas prestasi kerja orang lain. Hal ini akan memberikan semangat kepada seseorang untuk lebih meningkatkan prestasi kerjanya. Tetapi pujian yang diucap itu tidak asal ucap, harus pada tempat dan kondisi yang tepat. Kesalahan pujian bisa bermakna mengejek.
4.Motivasi Berhubungan Erat dengan Kebutuhan dalam Belajar
Dalam kehidupan, anak didik membutuhkan penghargaan. Perhatian, ketenaran, status, martabat, dan sebagainya merupakan kebutuhan yang wajar bagi anak didik. Semuanya dapat memberikan motivasi bagi anak didik dalam belajar. Guru yang berpengalaman harus dapat memanfaatkan kebutuhan anak didik, sehingga dapat memancing semangat belajar anak didik agar menjadi anak yang gemar belajar. Anak didik pun giat belajar untuk memenuhi kebutuhannya demi memuaskan rasa ingin tahunya terhadap sesuatu.
5.Motivasi dapat Memupuk Optimisme dalam Belajar
Siswa yang mempunyai motivasi dalam belajar selalu yakin dapat menyelesaikan setiap pekerjaan. Dia yakin bahwa belajar bukan kegiatan yang sia-sia. Hasilnya akan berguna tidak hanya kini, tetapi juga di hari mendatang.
6.Motivasi Melahirkan Prestasi dalam Belajar
Dari berbagai hasil penilitian selalu menyimpulkan bahwa motivasi mempengaruhi prestasi belajar. Tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator baik buruknya prestasi belajar seorang anak didik. Anak didik menyenangi mata pelajaran tertentu dengan senang hati mempelajari mata pelajaran itu. Selain memiliki bukunya, ringkasannya juga rapi dan lengkap. Setiap ada kesempatan selalu mata pelajaran yang disenangi itu yang dibaca. Ulangan pun dilewati dengan mulus dengan prestasi yang gemilang.
8.Fungsi Motivasi dalam Belajar
Dalam kegiatan belajar mengajar pasti ditemukan anak didik yang malas berpartisipasi dalam belajar. Sedikit pun tidak bergerak hatinya untuk mengikuti pelajaran dengan cara mendengarkan penjelasan guru dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Sementara anak didik yang lain aktif berpartisipasi dalam kegiatan.
Fungsi motivasi dalam belajar akan diuraikan dalam pembahasan sebagai berikut:
1.Motivasi sebagai pendorong perbuatan
Pada mulanya anak didik tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari muncullah minatnya untuk belajar. Sesuatu yang belum diketahui itu akhirnya mendorong anak didik untuk belajar dalam rangka mencari tahu. Oleh karena itu, motivasi mempunyai fungsi sebagai pendorong perbuatan siswa.
2. Motivasi sebagai penggerak perbuatan
Dorongan psikologis yang melahirkan sikap siswa merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung, yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik yang berfungsi sebagai penggerak perbuatan siswa. Sikap berada dalam kepastian perbuatan dan akal pikiran mencoba membedah nilai yang terpatri dalam wacana, prinsip, dan hukum. Sehingga mengerti betul isi yang dikandungnya. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi dapat berfungsi sebagai penggerak perbuatan.
3.Motivasi sebagai pengarah perbuatan
Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang harus diabaikan. Sesuatu yang akan dicari anak didik merupakan tujuan belajar yang akan dicapainya. Tujuan belajar itulah sebagai pengarah yang memberikan motivasi pada anak didik dalam belajar. Segala sesuatu yang menggangu pikirannya dan dapat membuyarkan konsentrasinya diusahakan disingkirkan jauh-jauh. Itulah peranan motivasi yang dapat mengarahkan perbuatan anak didik dalam belajar.
9.Bentuk-bentuk Motivasi dalam Belajar
Dalam proses interaksi belajar mengajar, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik, diperlukan untuk mendorong anak didik agar tekun belajar. Ada beberapa bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar anak didik di kelas, sebagai berikut:
1.Memberi Angka
Angka adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik. Angka merupakan alat motivasi yang cukup memberikan rangsangan kepada anak didik untuk mempertahankan atau bahkan lebih meningkatkan prestasi belajar mereka di masa mendatang. Angka ini biasanya terdapat dalam buku rapor sesuai jumlah mata pelajaran yang diprogramkan dalam kurikulum.
2.Hadiah
Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang-kenangan. Dalam dunia pendidikan, hadiah bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Hadiah dapat diberikan kepada anak didik yang berprestasi tinggi, ranking satu, dua, atau tiga dari anak didik lainnya. Pemberian hadiah bisa juga diberikan dalam bentuk beasiswa atau dalam bentuk lain seperti alat tulis. Dengan cara itu anak didik akan termotivasi untuk belajar guna mempertahankan prestasi belajar yang telah mereka capai.
3.Kompetisi
Kompetisi adalah persaingan, dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong anak didik agar mereka bergairah dalam belajar. Persaingan, baik dalam bentuk individu maupun kelompok diperlukan dalam pendidikan. Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk menjadikan proses interaksi belajar mengajar yang kondusif. Bila iklim belajar yang kondusif terbentuk, maka setiap anak didik telah terlihat dalam kompetisi untuk menguasai bahan pelajaran yang diberikan. Selanjutnya, setiap anak didik sebagai individu melibatkan diri mereka mesing-masing ke dalam aktivitas belajar.
4.Ego-Involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Siswa akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.
5.Memberi Ulangan
Anak didik biasanya mempersiapkan diri dengan belajar jauh-jauh hari untuk menghadapi ulangan. Namun demikian, ulangan tidak selamanya dapat digunakan sebagai alat motivasi. Ulangan yang guru lakukan setiap hari dengan tidak terprogram, akan membosankan anak didik. Oleh karena itu, ulangan akan menjadi alat motivasi bila dilakukan secara akurat dengan teknik dan strategi yang sistematis.
6.Mengetahui Hasil
Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Dengan mengetahui hasil, anak didik terdorong untuk belajar lebih giat. Apalagi bila hasil belajar itu mangalami kemajuan, anak didik berusaha untuk mempertahankannya atau bahkan meningkatkan intensitas belajarnya guna mendapatkan prestasi belajar yang lebih baik di kemudian hari atau pada semester atau catur wulan berikutnya.
7.Pujian
Pujian yang diucapkan pada waktu yang tepat dapat dijadikan sebagai alat motivasi. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Guru bisa memanfaatkan pujian untuk memuji keberhasilan anak didik dalam mengerjakan pekerjaan di sekolah. Pujian diberikan sesuai dengan hasil kerja, bukan dibuat-buat atau bertentangan sama sekali dengan hasil kerja anak didik. Dengan begitu anak didik tidak antipati terhadap guru, tetapi merupakan figur yang disenangi dan dikagumi.
8.Hukuman
Meski hukuman sebagai reinforcement yang negatif, tetapi bila dilakukan dengan tepat dan bijak akan merupakan alat motivasi yang baik dan efektif. Hukuman akan merupakan alat motivasi bila dilakukan dengan pendekatan edukatif, bukan karena dendam. Pendekatan edukatif dimaksud di sini sebagai hukuman yang mendidik dan bertujuan memperbaiki sikap dan perbuatan anak didik yang dianggap salah. Sehingga dengan hukuman yang diberikan itu anak didik tidak mengulangi kesalahan atau pelanggaran. Minimal mengurangi frekuensi pelanggaran. Akan lebih baik bila anak didik berhenti melakukannya di hari mendatang. Oleh karena itu, hukuman hanya diberikan oleh guru dalam konteks mendidik seperti memberikan hukuman berupa membersihkan kelas, menyiangi rumput di halaman sekolah, membuat resume atau ringkasan, atau apa saja dengan tujuan mendidik.
9.Hasrat untuk Belajar
Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan segala kegiatan tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah pasti hasilnya akan lebih baik daripada anak didik yang tidak berhasrat untuk belajar. Diakui, hasrat untuk belajar adalah gejala psikologis yang tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan kebutuhan anak didik untuk mengetahui sesuatu dari objek yang akan dipelajarinya. Kebutuhan itulah yang menjadi dasar aktivitas anak didik dalam belajar. Tidak ada kebutuhan berarti tidak ada hasrat untuk belajar. Itu sama saja tidak ada minat untuk belajar.
10.Minat
Minat adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang berminat terhadap aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu sacara konsisten dengan rasa senang. Dengan kata lain, minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.
Ada beberapa macam cara yang dapat guru lakukan untuk membangkitkan minat anak didik sebagai berikut: a) Membandingkan adanya suatu kebutuhan pada diri anak didik, b) Menghubungkan bahan pelajaran yang diberikan dengan persoalan pengalaman yang dimiliki anak didik, c) Memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mendapatkan hasil belajar yang baik, d) Menggunakan berbagai macam bentuk dan teknik mengajar dalam konteks perbedaan individual anak didik.
11.Tujuan yang Diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh anak didik merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, dirasakan anak sangat berguna dan menguntungkan, sehingga menimbulkan gairah untuk terus belajar.
B. Kajian Teori tentang Kesulitan Belajar
1. Pengertian Kesulitan Belajar
Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi.
Kesulitan belajar itu sendiri merupakan terjemahan dari istilah bahasa Inggris learning disability. Kesulitan belajar merupakan suatu konsep multi disipliner yang digunakan di lapangan ilmu pendidikan, psikologi, maupun ilmu kedokteran.
The National Joint Committe for Learning Disabilities (dalam Mulyono Abdurrahman, 1999 : 7) mengemukakan definisi kesulitan belajar adalah sebagai berikut; kesulitan belajar menunjuk pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk kesulitan yang nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar, atau kemampuan dalam bidang studi matematika. Gangguan tersebut intrinsik, dan diduga disebabkan oleh adanya disfungsi sistem saraf pusat. Meskipun suatu kesulitan belajar mungkin terjadi bersamaan dengan adanya kondisi lain yang mengganggu (misalnya gangguan sensoris, tuna grahita, hambatan sosial dan emosional) atau berbagai pengaruh lingkungan misalnya perbedaan budaya, pembelajaran yang tidak tepat dan faktor-faktor psikogenik. Berbagai hambatan tersebut bukan penyebab atau pengaruh langsung.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar adalah gangguan perseptual, konseptual, memori, maupun ekspresif yang disebabkan adanya ancaman, hambatan, maupun gangguan sehingga siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya.
2. Macam-macam Kesulitan Belajar
Secara garis besar kesulitan belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok; 1) Kesulitan belajar yang berhubungan daengan perkembangan (developmental learning disabilities), dan 2) Kesulitan belajar akademik (academic learnimg disabilities). Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan mencakup gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahasa dan komunikasi, dan kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku sosial. Kesulitan belajar akademik menunjuk pada adanya kegagalan-kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan-kegagalan tersebut mencakup penguasaan ketrampilan menulis dan membaca.
Dari kedua kelompok kesulitan belajar tersebut dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu sebagai berikut.
1.Dilihat dari jenis kesulitan belajar: a) Ada yang berat, dan b) Ada yang sedang
2.Dilihat dari bidang studi yang dipelajari: a) Ada yang sebagian bidang studi, dan b) Ada yang keseluruhan bidang studi
3.Dilihat dari sifat kesulitannya: a) Ada yang sifatnya permanen atau menetap, dan b) Ada yang sifatnya hanya sementara
4.Dilihat dari segi faktor penyebabnya: a) Ada yang karena faktor inteligensi, dan b) Ada yang karena faktor non inteligensi
3. Karakteristik Siswa Berkesulitan Belajar
Seperti telah dijelaskan, murid yang mengalami kesulitan belajar itu memiliki hambatan-hambatan, sehingga menampakkan gejala-gejala yang bisa diamati oleh orang lain (guru, pembimbing).
Beberapa gejala sebagai pertanda adanya kesulitan belajar. Misalnya: 1) Menunujukkan prestasi rendah yang dicapai oleh kelompok kelas, 2) Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah, 3) Lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam semua hal, misalnya dalam mengerjakan soal-soal dalam menyelesaikan tugas-tugas, 4) Menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti: acuh tak acuh, berpura-pura, dusta, dan lain-lain,5) Menunjukkan tingkah laku yang berlainan, 6) Anak didik yang tergolong memiliki IQ tinggi, yang secara potensial mereka seharusnya meraih prestasi belajar yang tinggi, tetapi kenyataannya mereka mendapatkan prestasi belajar yang rendah,7) Anak didik yang selalu menunjukkan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian besar mata pelajaran, tetapi di lain waktu prestasi belajarnya menurun drastis.
Anak-anak yang mengalami kesulitan belajar itu bisa dikenal dengan sebutan prestasi rendah/kurang (under achiever). Anak ini tergolong memiliki IQ tinggi tetapi prestasinya dalam belajar rendah (di bawah rata-rata kelas).
Dari gejala-gejala yang tampak itu guru (pembimbing) bisa menginterprestasi bahwa ia kemungkinan mengalami kesulitan belajar. Disamping melihat gejala-gejala yang tampak, guru pun dapat mengadakan penyelidikan antara lain dengan:
1.Observasi, adalah cara memperoleh dengan langsung mengamati terhadap objek. Data-data yang dapat diperoleh melalui observasi, misalnya:
a.Bagaimana sikap siswa dalam mengkuti pelajaran, adalah tanda-tanda lelah, mudah mengantuk, sukar memusatkan perhatian pada pelajaran.
b.Bagaimana kelengkapan catatan, peralatan dalam pelajaran. Murid yang mengalami kesulitan belajar, catatan maupun peralatan belajarnya tidak lengkap.
2.Interviu, adalah cara mendapatkan data dengan wawancara langsung terhadap orang yang diselidiki atau terhadap orang lain yang dapat memberikan informasi tentang orang yang diselidiki.
3.Tes diagnostik, adalah suatu cara mengumpulkan data dengan tes. Untuk mengetahui murid yang mengalami kesulitan belajar tes meliputi, tes buatan guru (teacher made test) yang dikenal dengan tes diagnostik, dan tes psikologis. Sebab yang mengalami kesulitan belajar itu mungkin disebabkan IQ rendah, tidak memiliki bakat, dan lain-lain sehingga diperlukan tes psikologis.
4.Dokumentasi, adalah cara mengetahui sesuatu dengan melihat dokumen-dokumen, catatan-catatan, arsip-arsip yang berhubungan dengan orang yang diselidiki.
Untuk mengenal murid yang mengalami kesulitan belajar, bisa melihat: a) Riwayat hidupnya, b) Kehadiran murid di dalam mengikuti pelajaran, c) Memiliki daftar pribadinya, d) Catatan hariannya, e) Catatan kesehatannya, f) Daftar hadir di sekolah, g) Kumpulan ulangan, h) Rapor, dan lain-lain (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, 2004 : 96).
4. Hirarki Penyebab Kesulitan Belajar
Hirarki penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan, yaitu sebagai berikut :
1. Faktor Intern
a) Sebab yang bersifat fisik
Penyebab kesulitan belajar dapat terjadi karena gangguan yang bersifat fisik yaitu karena sakit, karena kurang sehat, dan karena cacat tubuh.
1. Karena sakit
Seorang yang sakit akan mengalami kelemahan pada fisiknya, sehingga saraf sensoris dan motorisnya lemah. Akibatnya rangsangan yang diterima melalui indranya tidak dapat diteruskan ke otak.
2. Karena kurang sehat.
Anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah capek, mengantuk, pusing, daya konsentrasinya hilang, saraf otak tidak mampu bekerja secara optimal dalam memproses, mengelola menginterpretasi dan mengorganisasi bahan pelajaran melalui indranya.
3. Karena cacat tubuh.
Cacat tubuh dibedakan atas: a) Cacat tubuh yang ringan seperti kurang pendengaran, kurang pengelihatan, gangguan psikomotor, b) Cacat tubuh yang tetap (serius) seperti buta, tuli, bisu, hilang tangan dan kakinya.
Bagi golongan yang serius, maka harus masuk pendidikan khusus seperti SLB. Bagi golongan yang ringan, masih dapat mengikuti pendidikan umum, asal guru memperhatikan dan menempuh placement yang cepat, misalnya:
1)Bagi anak yang kurang mendengar, mereka ditempatkan pada deretan paling depan, agar suara guru masih keras terdengar.
2)Anak yang kurang pengelihatannya, misalnya rabun jauh dan rabun dekat. Maka yang rabun jauh ditempatkan pada meja paling depan dan yang rabun dekat ditempatkan pada meja paling belakang agar dapat melihat tulisan di papan tulis.
b) Sebab yang bersifat rohani
1. Inteligensi
Anak yang normal dapat menamatkan SD tepat pada waktunya. Mereka yang memiliki IQ 110 - 140 digolongkan cerdas, 140 ke atas digolongkan jenius. Mereka yang memiliki IQ kurang dari 90 tergolong lemah mental (mentally deffective). Anak inilah yang banyak mengalami kesulitan belajar. Karena itu guru/pembimbing harus meneliti IQ anak dengan bantuan seorang psikologi agar dapat melayani murid-muridnya.
2.Bakat
Bakat adalah potensi/kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir. Setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda. Seseorang yang berbakat musik mungkin dibidang lain ia ketinggalan. Seseorang yang berbakat teknik mungkin dibidang olah raga lemah. Jadi seseorang akan mudah mempelajari yang sesuai dengan bakatnya. Apabila seseorang harus mempelajari bahan yang lain dari bakatnya akan cepat bosan, mudah putus asa, tidak senang.
3.Minat
Tidak hanya minat seseorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar. Belajar yang tidak ada minatnya mungkin tidak sesuai dengan bakatnya, tidak sesuai dengan kebutuhan, tidak sesuai dengan kecakapan, bahkan banyak menimbukan problema pada dirinya. Karena itu pelajaran pun tak pernah terjadi proses dalam otak, akibatnya timbul kesulitan.
4.Motivasi Motivasi berfungsi mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar motivasinya semakin besar kesuksesan belajarnya. Sebaliknya mereka yang motivasinya lemah, tampak acuh tak acuh, mudah putus asa, perhatiannya tidak tertuju pada pelajaran, suka mengganggu kelas, sering meninggalkan pelajaran, akibatnya banyak mengalami kesulitan belajar. Oleh karena itu, besar kecilnya motivasi siswa dalam belajar sangat berpengaruh dalam kesuksesan belajar.
5.Faktor kesehatan mental
Dalam belajar tidak hanya menyangkut segi intelektual, tetapi menyangkut segi kesehatan mental dan emosional. Individu dalam hidupnya selalu mempunyai kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan. Apabila kebutuhan itu tidak terpenuhi, akan membawa masalah-masalah emosional dan bentuk-bentuk mal adjusment. Keadaan seperti ini akan menimbulkan kesulitan belajar, sebab dirasakan tidak mendatangkan kebahagiaan.
6.Tipe-tipe khusus seorang pelajar
Ada tipe visual, auditif, dan motorik, yaitu sebagai berikut:
a)Seorang bertipe visual akan cepat mempelajari bahan-bahan yang disajikan secara tertulis, bagan grafik dan gambar. Sebaliknya akan merasa sulit belajar jika dihadapkan dalam bentuk suara atau gerakan.
b)Anak yang bertipe auditif, mudah mempelajari bahan yang disajikan dalam bentuk suara (ceramah). Sedangkan pelajaran yang disajikan dalam bentuk tulisan, perabaan, gerakan-gerakan, ia akan mengalami kesulitan.
c)Individu yang bertipe motorik, mudah mempelajari bahan yang berupa tulisan, gerakan, dan sulit mempelajari bahan yang berupa suara dan pengelihatan.
2.Faktor Ekstern
a)Faktor Keluarga
Keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dan pertama. Tetapi dapat juga sebagai faktor penyebab kesulitan belajar. Yang termasuk faktor ini antara lain adalah sebagai berikut.
1.Faktor Orang Tua
a. Cara mendidik anak
Orang tua yang tidak atau kurang memperhatikan pendidikan anak-anaknya, mungkin acuh tak acuh, tidak memperhatikan kemajuan anak-anaknya, akan menjadi penyebab kesulitan belajarnya. Orang tua yang bersifat kejam, otoriter, akan menimbulkan mental yang tidak sehat bagi anak. Hal ini akan berakibat anak tidak dapat tentram, tidak senang di rumah, ia pergi mencari teman sebayanya, hingga lupa belajar. Pada umumnya orang tua tidak memberikan dorongan kepada anaknya, hingga anak tidak menyukai belajar, bahkan karena sikap orang tuanya yang salah, anak bisa benci belajar.
b. Hubungan Orang Tua dan Anak
Faktor ini penting sekali dalam menentukan kemajuan belajar anak. Yang dimaksud hubungan di sini adalah kasih sayang penuh pengertian, atau bahkan kebencian, sikap keras, acuh tak acuh, memanjakan dan lain-lain. Kurangnya kasih sayang akan menimbulkan emosional insecurity. Demikian juga sikap keras, kajam, acuh tak acuh akan menimbulkan hal yang serupa. Kasih sayang dari orang tua dapat berupa: 1) Apakah orang tua sering meluangkan waktunya untuk omong-omong bergurau dengan anak-anaknya. 2) Biasakan orang tua membicarakan kebutuhan keluarga dengan anak-anaknya, seorang anak akan mengalami kesulitan belajar karena faktor-faktor tersebut.
2.Suasana Rumah/Keluarga
Suasana rumah atau keluarga yang sangat ramai/gaduh, selalu tegang, selalu banyak masalah diantara anggota keluarga antara ayah dan ibu selalu ada masalah atau membisu, menyebabkan anak tidak tahan di rumah, sehingga tidak mustahil kalau prestasi belajar anak menurun. Untuk itu hendaknya suasana rumah dibuat menyenangkan, tentram, damai, harmonis, agar anak betah tinggal di rumah. Keadaan ini akan menguntungkan bagi kemajuan belajar anak.
3.Keadaan Ekonomi Keluarga
Keadaan ekonomi digolongkan dalam:
(a) Ekonomi yang kurang atau miskin
Keadaan ini akan menimbulkan kurangnya alat-alat belajar, kurangnya biaya yang disediakan olah orang tua, dan tidak mempunyai tempat belajar yang baik. Keadaan seperti itu akan menghambat kemajuan anak. Faktor biaya merupakan faktor yang sangat penting, karena belajar dan kelangsungannya sangat memerlukan biaya. Misalnya untuk membeli alat-alat, uang sekolah, dan biaya-biaya lainnya. Maka keluarga yang miskin akan merasa berat untuk mengeluarkan biaya yang bermacam-macam itu. Karena keuangan digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Keluarga yang miskin juga tidak dapat menyediakan tempat untuk belajar yang memadai, dimana tempat belajar itu merupakan tempat terlaksananya belajar secara efisien dan efektif.
(b) Ekonomi yang berlebihan atau kaya
Keadaan ini sebaliknya dari keadaan yang pertama, dimana ekonomi keluarga berlimpah ruah. Mereka akan menjadi segan belajar karena ia terlalu banyak bersenang-senang. Mungkin juga mereka terlalu dimanja oleh orang tua, orang tua tidak tahan melihat anaknya belajar dengan bersusah payah. Keadaan seperti ini akan dapat menghambat kemajuan belajar.
b) Faktor Sekolah
1. Guru
Guru dapat menjadi penyebab kesulitan belajar, apabila:
a.Guru tidak kualified, baik dalam pengambilan metode yang digunakan atau dalam mata pelajaran yang dipegangnya. Hal ini bisa saja terjadi, karena mata pelajaran yang dipegangnya kurang sesuai, sehingga kurang menguasai, lebih-lebih kurang persiapan, sehingga cara menerangkan kurang jelas, sukar dimengerti oleh murid-muridnya.
b.Hubungan guru dengan murid kurang baik. Hal ini bermula pada sifat dan sikap guru yang kurang disenangi oleh murid-muridnya, seperti: 1) Kasar, suka marah, suka mengejek, tak pernah senyum, tak suka membantu anak, suka membentak, dan lain-lain, 2) Tak pandai menerangkan, sinis, sombong, 3) Menjengkelkan, pelit dalam memberi angka, tidak adil, dan lain-lain, 4) Guru menuntut standar pelajaran di atas kemampuan anak. Hal ini dapat mengakibatkan hanya sebagian kecil muridnya dapat berhasil dengan baik, 5) Guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha diagnosis kesulitan belajar. Misalnya dalam bakat, minat, sifat, kebutuhan anak-anak, dan sebagainya, 6) Metode mengajar guru yang dapat menimbulkan kesulitan belajar, 7) Metode mengajar yang mendasarkan diri pada latihan mekanis tidak didasarkan pada pengertian, 8) Guru dalam mengajar tidak menggunakan alat peraga yang memungkinkan semua alat indranya berfungsi, 9) Metode mengajar yang menyebabkan murid pasif, sehingga anak tidak ada aktivitas, 10) Metode mengajar tidak menarik, kemungkinan materinya tinggi, atau tidak menguasai bahan, 11) Guru hanya menggunakan satu metode saja dan tidak bervariasi.
2.Alat
Alat pelajaran yang kurang lengkap membuat penyajian pelajaran yang tidak baik. Terutama pelajaran yang bersifat praktikum. Kurangnya alat laboratorium akan banyak menimbulkan kesulitan dalam belajar. Timbulnya alat-alat itu akan menimbulkan perubahan metode mengajar guru, segi dalamnya ilmu pengetahuan pada pikiran anak, memenuhi tuntutan dari bermacam-macam tipe anak. Tiadanya alat-alat tersebut, guru cenderung menggunakan metode ceramah yang menimbulkan kepasifan bagi anak, sehingga akan timbul kesulitan belajar.
3. Kondisi Gedung
Terutama ditunjukkan pada ruang kelas/ruangan tempat belajar anak. Ruangan harus memenuhi syarat kesehatan seperti: a) Ruangan harus berjendela, ventilasi cukup, udara segar dapat masuk ruangan, sinar dapat menerangi ruangan, b) Dinding harus bersih, putih, dan tidak terlihat kotor, c) Lantai tidak becek, licin atau kotor, d) Keadaan gedung jauh dari keramaian.
Apabila beberapa hal tersebut tidak terpenuhi, maka situasi dan kondisi belajar akan kurang baik. Anak-anak selalu gaduh, sehingga memungkinkan pelajaran terhambat.
4. Kurikulum
Kurikulum yang kurang baik, misalnya: a) Bahan-bahannya terlalu tinggi,b) Pembagian bahan tidak seimbang (kelas 1 banyak pelajaran, sedangkan kelas-kelas di atasnya sedikit pelajaran), c) Adanya pendataan materi. Hal ini akan membawa kesulitan belajar bagi murid-murid. Sebaliknya kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan anak, akan membawa kesuksesan dalam belajar.
5. Waktu Sekolah dan Disiplin Waktu Kurang
Apabila sekolah masuk sore, siang, atau malam, maka kondisi anak tidak lagi dalam keadaan yang optimal untuk menerima pelajaran. Sebab energi sudah berkurang, di samping udara yang relatif panas di siang hari, juga dapat mempercepat proses kelelahan. Karena itu waktu yang baik untuk belajar adalah pagi hari.
Disamping itu pelaksanaan disiplin kurang, misalnya murid-murid liar, sering terlambat datang, tugas yang diberikan tidak dikerjakan, kewajibannya dilalaikan, sekolah berjalan tanpa kendali. Lebih-lebih gurunya kurang disiplin akan banyak mengalami hambatan dalam belajar.
c) Faktor Mass Media dan Lingkungan Sosial
1. Faktor Mass Media
Faktor mass media meliputi: bioskop, TV, surat kabar, majalah, buku- buku komik yang ada disekeliling kita. Hal-hal itu akan menghambat belajar apabila anak terlalu banyak waktu yang dipergunakan untuk itu, hingga lupa tugasnya untuk belajar.
2. Lingkungan Sosial
a. Teman bergaul
Anak yang bergaul dengan teman yang tidak sekolah, ia akan malas belajar. Sebab cara hidup anak yang bersekolah berlainan dengan anak yang tidak sekolah.
b. Lingkungan Tetangga
Corak kehidupan tetangga misalnya sering main judi, minum minuman keras, menganggur, tidak suka belajar, akan mempengaruhi anak-anak yang bersekolah.
c. Aktivitas dalam Masyarakat
Terlalu banyak berorganisasi, kursus ini dan itu, akan menyebabkan belajar anak akan terbengkalai.
C. Upaya Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar bagi Siswa yang Mengalami Kesulitan Belajar
Seperti diketahui, motivasi belajar pada siswa tidak sama kuatnya. Pada siswa yang motivasinya bersifat intrinsik, kemauan belajarnya lebih kuat dan tidak tergantung pada faktor di luar dirinya. Sebaliknya dengan siswa yang motivasi belajarnya bersifat ekstrinsik, kemauan untuk belajar sangat tergantung pada kondisi di luar dirinya. Namun demikian, di dalam kenyataan motivasi ekstrinsik inilah yang banyak terjadi, terutama pada anak-anak dan remaja. Oleh karena itu, upaya menimbulkan dan meningkatkan motivasi belajar, khususnya oleh guru merupakan suatu hal yang perlu dan wajar (Max Darsono, 2001 : 68).
Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa adalah sebagai berikut:
1. Mengoptimalkan Penerapan Prinsip-prinsip Belajar
Ada beberapa prinsip yang terkait dalam proses belajar, misalnya perhatian siswa, keaktifan siswa, keterlibatan langsung siswa, materi pelajaran yang merangsang, dan lain-lain. Agar motivasi belajar siswa meningkat, hendaknya guru berusaha menciptakan situasi kelas yang kondusif, sehingga perhatian, keterlibatan siswa, dan lain-lain yang termasuk prinsip balajar dapat berfungsi secara optimal.
2. Mengoptimalkan Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar
Unsur-unsur dinamis dalam belajar maksudnya adalah unsur-unsur yang keberadaannya dapat berubah-ubah, dari tidak ada menjadi ada, dari keadaan lemah menjadi menguat. Unsur-unsur ini meliputi bahan mengajar dan upaya pengadaannya, alat bantu mengajar dan upaya pengadaannya, suasana belajar dan upaya pengembangannya, kondisi siswa dan upaya penyiapannya.
3. Mengoptimalkan Pemanfaatan Pengalaman yang Telah Dimiliki Siswa
Siswa lebih senang mempelajari materi pelajaran yang baru, apabila siswa mempunyai latar belakang untuk mempelajari materi baru tersebut. Oleh karena itu, guru harus pandai memilih contoh-contoh untuk menjelaskan suatu konsep baru, contoh-contoh ini hendaknya banyak terdapat di lingkungan siswa.
4. Mengembangkan Cita-cita atau Aspirasi Siswa
Setiap siswa mempunyai cita-cita dalam belajar. Namun tidak semua siswa dapat mencapai kesuksesan tersebut. Kesuksesan biasanya dapat meningkatkan aspirasi, dan kegagalan mengakibatkan aspirasi rendah. Untuk meningkatkan aspirasi ini, hendaknya guru tidak menjadikan siswa selalu gagal. Kegagalan yang berkepanjangan menyebabkan siswa menjadi tidak bergairah dalam mencapai cita-citanya. Sebaiknya guru memberi kesempatan kepada siswa untuk merumuskan tujuan belajar yang sesuai dengan kemampuannya, sehingga motivasi mereka untuk mencapai tujuan itu lebih kuat.
Aktivitas belajar bukanlah suatu kegiatan yang dilakukan tanpa pengaruh dari faktor lain. Aktivitas belajar merupakan kegiatan yang melibatkan unsur jiwa dan raga. Belajar tidak akan pernah dilakukan tanpa suatu dorongan yang kuat baik dalam dirinya yang lebih utama maupun dari luar sebagai upaya lain yang tidak kalah pentingnya. Faktor lain yang mempengaruhi aktivitas belajar seseorang itu dalam pembahasan ini disebut motivasi. Motivasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam aktivitas belajar siswa. Tidak ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar.
Prestasi belajar yang memuaskan dapat diraih oleh setiap siswa jika mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai ancaman, hambatan, dan gangguan. Salah satu contoh dari ancaman tersebut adalah kurangnya motivasi belajar siswa. Pada tingkat tertentu memang ada siswa yang dapat mengatasi kesulitan belajarnya, tanpa harus melibatkan orang lain. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, karena siswa belum mampu mengatasi kesulitan belajarnya, maka bantuan guru atau orang lain sangat diperlukan oleh siswa tersebut.
Berikut adalah upaya guru dalam meningkatkan motivasi belajar bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar:
1. Pergunakan Pujian Verbal
Kata-kata seperti ”bagus”, ”baik”, ”pekerjaanmu baik”, yang diucapkan guru kepada siswa setelah selesai mengerjakan yang diperintahkan atau mendekati tingkah laku yang diinginkan, merupakan pembangkit motivasi yang besar.
2. Pergunakan Tes dan Nilai Secara Bijaksana
Kenyataan bahwa tes dan nilai dipakai sebagai dasar berbagai hadiah sosial menyebabkan tes dan nilai dapat menjadi suatu kekuatan untuk memotivasi siswa. Siswa belajar karena ada keuntungan yang diperoleh dengan nilai yang tinggi. Dengan demikian, memberikan tes dan nilai mempunyai efek dalam memotivasi siswa untuk belajar.
3. Membangkitkan Rasa Ingin Tahu dan Hasrat Eksplorasi
Di dalam diri siswa ada potensi yang besar yaitu rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Potensi ini dapat ditumbuhkan dengan menyediakan lingkungan belajar yang kreatif. Rasa ingin tahu pada anak didik melahirkan kegiatan yang positif, yaitu eksplorasi. Keinginan siswa untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru merupakan desakan eksploratif dari dalam diri siswa. Motivasi akan terus meningkat jika dalam diri siswa sudah ada rasa ingin tahu dan hasrat eksplorasi.
4. Melakukan Hal yang Luar Biasa
Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, guru harus dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, misalnya menceritakan masalah guru dalam belajar di masa lalu ketika sedang sekolah seperti mereka, sehingga setelah mendengar cerita dari guru siswa akan lebih bersemangat dalam belajar dan prestasi siswa akan meningkat. Melakukan hal yang luar biasa merupakan upaya yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan motivasi belajar terutama bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar.
5. Merangsang Hasrat Siswa
Hasrat siswa perlu dirangsang dengan memberikan sedikit contoh hadiah yang akan diterimanya bila ia berusaha dan berprestasi dalam belajar. Hadiah yang diberikan kepada siswa dapat berupa benda, pujian verbal, nilai yang baik dan lain-lain yang akan merangsang hasrat siswa sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
6. Memanfaatkan Apersepsi Siswa
Pengalaman siswa baik yang didapat di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah dapat dimanfaatkan ketika guru sedang menjelaskan materi pelajaran. Siswa mudah menerima dan menyerap materi pelajaran dengan menghubungkan bahan pelajaran yang telah dikuasainya. Bahan apersepsi merupakan seperangkat materi yang dikuasai yang memudahkan untuk menuju materi pelajaran yang baru.
7. Minta Kepada Siswa untuk Mempergunakan Hal-hal yang Sudah Dipelajari Sebelumnya
Hal ini menguatkan belajar siswa dan sekaligus menanamkan suatu penghargaan pada diri siswa, bahwa apa yang sedang dipelajarinya sekarang, juga berhubungan dengan pengajaran yang akan datang.
8. Perkecil Daya Tarik Sistem Motivasi yang Bertentangan
Kadang agar diterima oleh teman-temannya, siswa melakukan hal-hal yang tidak diinginkan oleh guru. Dalam hal ini guru sebaiknya melibatkan ketua kelas yang berperan sebagai pemimpin dan sebagai contoh siswa yang lain di kelas itu, dalam aktivitas yang berguna (menyusun tes, mewakili sekolah dalam pameran ilmiah, dan sebagainya) sehingga teman-temannya akan meniru melakukan hal-hal yang positif.
Dalam interaksi edukatif tidak semua siswa termotivasi untuk bidang studi tertentu. Motivasi siswa untuk menerima pelajaran tertentu berbeda-beda, ada siswa yang memiliki motivasi yang tinggi, ada yang sedang, dan ada juga yang sedikit sekali memiliki motivasi. Hal ini perlu disadari oleh guru agar dapat memberi motivasi yang bervariasi kepada siswa.
Jika terdapat siswa yang kurang termotivasi untuk belajar, peranan motivasi ekstrinsik yang bersumber dari luar diri siswa sangat diperlukan. Motivasi ekstrinsik ini di berikan bisa dalam bentuk pujian, hadiah, dan lain-lain. Tugas guru sekarang adalah bagaimana menciptakan interaksi edukatif yang dapat mendorong rasa ingin tahu, ingin mencoba, bersikap mandiri, dan ingin maju. Siswa dapat tumbuh dan berkembang yang pada akhirnya menopang keberhasilan pengajaran yang gemilang.
Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh manusia untuk dapat menyesuaikan dan akhirnya untuk mendapatkan kepuasan ini disebut dinamika manusia. Tugas guru dalam memberikan motivasi siswa adalah mengingat adanya dinamika siswa dan membimbing dinamika siswa. Maksudnya ialah supaya anak yang belajar dalam membentuk dinamika manusia ini tidak melalui pengalaman-pengalaman yang kurang baik.
Adanya pandangan beberapa ahli yang menekankan segi-segi tertentu pada motivasi tersebut justru mengisyaratkan guru bertindak taktis dan kreatif dalam mengelola motivasi belajar siswa. Motivasi belajar dihayati, dialami, dan merupakan kekuatan mental siswa dalam belajar. Dari siswa, motivasi tersebut perlu dihidupkan terus untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan dijadikan dampak pengiring, yang selanjutnya menimbulkan program belajar sepanjang hayat, sebagai perwujudan emansipasi kemandirian tersebut terwujud dalam cita-cita atau aspirasi siswa, kemampuan siswa, kondisi siswa, dan dinamika siswa dalam belajar. Dari guru, motivasi belajar pada siswa berada dalam lingkup program dan tindak pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus berupaya untuk meningkatkan motivasi belajar.
Prestasi belajar yang baik dapat diraih oleh setiap siswa jika mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai ancaman, hambatan, dan gangguan. Namun sayangnya ancaman, hambatan, dan gangguan dialami oleh siswa tertentu. Sehingga mereka mengalami kesulitan dalam belajar. Di setiap sekolah dalam berbagai jenis dan tingkatan pasti memiliki siswa yang berkesulitan belajar. Masalah yang satu ini tidak hanya dirasakan oleh sekolah modern di perkotaan, tapi juga dimiliki oleh sekolah tradisional di pedesaan dengan segala keminiman dan kesederhanaannya. Hanya yang membedakannya pada sifat, jenis, dan faktor penyebabnya.
Setiap kali kesulitan belajar siswa yang satu dapat diatasi, tetapi pada waktu yang lain muncul lagi kasus kesulitan belajar siswa yang lain. Dalam setiap bulan atau bahkan dalam setiap minggu tidak jarang ditemukan siswa yang berkesulitan belajar. Walaupun sebenarnya masalah yang mengganggu keberhasilan belajar siswa ini sangat tidak disenangi oleh guru dan bahkan oleh siswa itu sendiri. Tetapi disadari atau tidak kesulitan belajar datang pada siswa. Namun, begitu usaha demi usaha harus diupayakan dengan berbagai strategi dan pendekatan agar siswa dapat dibantu keluar dari kesulitan belajar. Sebab bila tidak, siswa akan mengalami kegagalan dalam meraih prestasi belajar yang memuaskan.
Kenyataan-kenyataan di atas membuktikan betapa pentingnya meningkatkan motivasi belajar siswa terutama bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Guru sebagai orang yang membelajarkan siswa sangat berkepentingan dengan masalah ini. Oleh karena itu, sebagai guru atau calon guru sebisa mungkin kita harus selalu berupaya untuk dapat meningkatkan motivasi belajar terutama bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dengan menggunakan berbagai upaya yang telah diuraikan pada bab sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Catharina Tri Anni. 2005. Psikologi Belajar. Semarang : UPT. MKK UNNES.
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Max Darsono. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Semarang : IKIP Semarang Press.
Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Mulyono Abdurrahman. 1996. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Mustaqim. 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.
Ngalim Purwanto. 2006. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.
Sunaryo Kartadinata dan Nyoman Dantes. 1997. Landasan-landasan Pendidikan Sekolah Dasar. Jakarta : Depdikbud.
Syaiful Bahri Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Syaiful Bahri Djamarah. 2002. Rahasia Sukses Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Syaiful Bahri Djamarah. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta : Rineka Cipta.
Selasa, 26 Oktober 2010
Lagu Pembelajaran IPS SD Kelas V
PERTEMPURAN SURABAYA
(Anak Kambing Saya)
Jenderal Mallaby pemimpin sekutu
Dari Surabaya bung Tomo pemimpinnya
10 November tahun ’45
Sekutu menggempur Surabaya tercinta
Banyak pejuang yang gugur (2x)
Beribu-ribu jatuh korban disana
Tuk mengenangnya pemerintah tetapkan
10 November sebagai hari Pahlawan
Ayo para pemuda
Ayo para pemudi
Kita tladani perjuangan mereka
PERTEMPURAN 5 HARI DI SEMARANG
(Pelangi-pelangi)
15 Oktober tahun ”45
Di kota Semarang tempat terjadinya
Salah satu korbannya dokter Karyadi
Tuk memperingati dibangunlah Tugu Muda
PERUNDINGAN ROEM-ROYEN
(Suwe Ora Jamu)
Mr. Moh Roem dari Indonesia
Dr. Van Royen delegasi dari Belanda
Tanggal 7 Mei tahun “45
Perundingan Roem-Royen itu diselenggarakan
Pemerintahan Indonesia kembali ke jogja
Perjanjian ke 2 dibentuklah KMB
KMB
(Naik Delman)
Di kota Den Haag Belanda itulah tempatnya
23 Agustus tahun ”49
Moh. Hatta wakil dari Indonesia
Mr. J. H. Van Marseveen itu dari Belanda
Hey.......
Menyelesaikan pertikaian tujuannya
Kedaulatan kembali itu hasilnya
By. Salma
(Anak Kambing Saya)
Jenderal Mallaby pemimpin sekutu
Dari Surabaya bung Tomo pemimpinnya
10 November tahun ’45
Sekutu menggempur Surabaya tercinta
Banyak pejuang yang gugur (2x)
Beribu-ribu jatuh korban disana
Tuk mengenangnya pemerintah tetapkan
10 November sebagai hari Pahlawan
Ayo para pemuda
Ayo para pemudi
Kita tladani perjuangan mereka
PERTEMPURAN 5 HARI DI SEMARANG
(Pelangi-pelangi)
15 Oktober tahun ”45
Di kota Semarang tempat terjadinya
Salah satu korbannya dokter Karyadi
Tuk memperingati dibangunlah Tugu Muda
PERUNDINGAN ROEM-ROYEN
(Suwe Ora Jamu)
Mr. Moh Roem dari Indonesia
Dr. Van Royen delegasi dari Belanda
Tanggal 7 Mei tahun “45
Perundingan Roem-Royen itu diselenggarakan
Pemerintahan Indonesia kembali ke jogja
Perjanjian ke 2 dibentuklah KMB
KMB
(Naik Delman)
Di kota Den Haag Belanda itulah tempatnya
23 Agustus tahun ”49
Moh. Hatta wakil dari Indonesia
Mr. J. H. Van Marseveen itu dari Belanda
Hey.......
Menyelesaikan pertikaian tujuannya
Kedaulatan kembali itu hasilnya
By. Salma
Empat Pilar Belajar Menurut UNESCO
EMPAT PILAR BELAJAR MENURUT UNESCO
1. Belajar mengetahui (learning to know)
Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan dan pemanfaatan informasi. Dewasa ini terdapat ledakan informasi dan pengetahuan. Hal itu bukan saja disebabkan karena adanya perkembangan yang sangat cepat dalam bidang ilmu dan teknologi, tetapi juga karena perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang elektronika, memungkinkan sejumlah besar informasi dan pengetahuan tersimpan, bisa diperoleh dan disebarkan secara cepat dan hampir menjangkau seluruh planet bumi. Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet, bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab, diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan dimanfaatkan untuk mencapai berbagai tujuan: memperluas wawasan, meningkatakan kemampuan, memecahkan masalah, belajar lebih lanjut, dll.
Jacques Delors (1996), sebagai ketua komisi penyusun Learning the Treasure Within, menegaskan adanya dua manfaat pengetahuan, yaitu pengetahuan sebagai alat (mean) dan pengetahuan sebagai hasil (end). Sebagai alat, pengetahuan digunakan untuk pencapaian berbagai tujuan, seperti: memahami lingkungan, hidup layak sesuai kondisi lingkungan, pengembangan keterampilan bekerja, berkomunikasi. Sebagai hasil, pengetahuan mereka dasar bagi kepuasaan memahami, mengetahui dan menemukan.
Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru. Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi knowing much (berusaha tahu banyak).
2. Belajar berkarya (learning to do)
Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Dalam konsep komisi Unesco, belajar berkarya ini mempunyai makna khusus, yaitu dalam kaitan dengan vokasional. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan kompetisi kerja ini, juga berkembang semakin tinggi, tidak hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi teknis atau operasional, tetapi sampai dengan kompetensi profesional. Karena tuntutan pekerjaan didunia industri dan perusahaan terus meningkat, maka individu yang akan memasuki dan/atau telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu terus bekarya. Mereka harus mampu doing much (berusaha berkarya banyak).
Sebuah pembelajaran ada prinsip aktivitas (ada kegiatan) :
· Hard Skills : keterampilan yang menuntut fisik
· Soft Skills : keterampilan yang menuntut intelektual
3. Belajar hidup bersama (learning to live together)
Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi, berkomonikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok dituntut belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, being sociable (berusaha membina kehidupan bersama)
4. Belajar berkembang utuh (learning to be)
Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dengan moral yang kuat. Individu-individu global harus berupaya bermoral kuat atau being morally
Ada Cerita
HITAM PUTIHNYA DUNIAKU KARENA BAPAKKU
Pagi ini matahari sangat menyengat panasnya. Tak ada satupun awan yang menutupi dan menyelimutinya. Seperi hari-hari biasanya, suasana kota sangat panas dan riuh oleh kendaraan yang lalu lalang. Rasanya udara sangat sesak sekali setiap kali kita menghirupnya, kita seperti berebutan udara bersh di kota besar seperti Jakarta ini. Mungkin lebih banyak CO2 nya ketimbang oksigen.
Cuaca panas dipagi ini tak menyurutkan langkah Rani untuk bekerja seperti biasanya. Rani adalah salah satu orang di kota tersebut yang harus melawan hari ini dengan bekerja di bawah terik matahari untuk melangsungkan hidupnya, ia membantu ibunya yang juga seorang pemulung. Sebenarnya Rani masih mempunyai bapak, tetapi bapaknya adalah seorang pengangguran yang malas mencari kerja dan suka judi serta mabuk-mabukan. Hampir setiap malam bapaknya datang dengan kondisi mabuk dan tidak akan pernah ketinggalan hal yang selalu dilakukan bapaknya kepada ibunya yaitu menyiksa ibunya. Keadaan seperti itu selalu Rani lihat setiap hari, setiap hari juga Rani selalu menyumpahi bapaknya dalam hatinya. Tetapi suatu hari Rani tak sanggup lagi melihat ibunya diperlakukan bapaknya seperti itu, ia pun marah dan memukul bapaknya dengan sebuah kayu. Hal itu membuat bapaknya geram dan marah. Hari itu juga Rani disiksa oleh bapaknya hingga wajahnya lebam-lebam. Sebenarnya Rani ingin pergi dari rumah yang seperti neraka itu, tetapi ia tidak tega dengan ibunya yang selalu setia dengan bapak yang bejat itu. Ibunya tidak mau meninggalkan bapaknya walaupun sering disiksa raga dan batinnya. Ibunya selalu berkata kepada Rani, “bagaimanapun ia bapakmu, Nduk”, hal itu selalu dikatakan ibunya setiap Rani menyumpahi dan marah terhadap bapaknya.
Suatu hari ibunya jatuh sakit dan tidak dapat bekerja, Ranipun akhirnya berangkat sendiri bekerja sebenarnya ia tak tega melihat ibunya sendiri di rumah tapi gimana lagi kalau tak bekerja makan apa hari ini dan uang darimana untuk beli obat. Pendapatan hari ini sangat lumayan, tidak seperti hari biasanya. Ranipun pulang kerumah membawakan nasi bungkus untuk dimakan ibunya sebelum ia membeli obat. Tetapi sebelum membeli obat, bapaknya datang marah-marah dan minta uang. Rani tak memberikan uang itu kepada bapaknya karena untuk membeli obat ibunya. Terjadilah pertengkaran hebat diantara mereka, uang yang seharusnya untuk membeli obat diambil bapaknya, Ranipun menangis didekat ibunya.
Sudah 2 minggu ibunya sakit dan selama itu pula tak mendapat perawatan medis karena tak punya uang, ibunya hanya diberi obat dari warung. Kelakuan bapaknya semakin manjadi-jadi, setiap hari ada saja orang yang datang menagih hutang. Keadaan tersebut diketahui ibunya dan membuat sakitnya tambah parah.
Malam itu, setelah rumahnya dirusak oleh salah satu penagih hutang yang menagih bapaknya, bapaknya datang ke rumah. Ia membawa Rani dengan paksa tanpa sepengetahuan ibunya. Rani diajak kesuatu tempat yang penuh dengan penjudi. Ditempat itu bapaknya menawarkan Rani, Rani memberontak dan berusaha lari tetapi tetap tak bisa. Rani hanya menangis dan melihat bapaknya yang seperti setan, Ranipun menjadi seorang pelacur. Rani akhirnya menuruti perintah bapaknya dengan pikiran ia dapat banyak uang agar dapat mengobati ibunya yang sudah lama sakit tetapi ternyata tidak seperti yang diharapkan. Uangnya selalu diminta bapaknya.
Hari ini, hati Rani tak menentu. Ia seperti mendapat firasat akan terjadi sesuatu. Saat itu berangkat menuju tempat ia bekerja ia disusul tetangganya yang memberi kabar kalau ibunya meninggal. Rani memang sudah 2 hari ini tak pulang kerumah. Hatinyapun semakin hancur karena ditinggal ibunya. Rani semakin menjadi-jadi, ia tidak mau berhenti sebagai wanita penghibur, ia malah melampiaskan kemarahannya dengan hal itu. Sekarang ia tetap bekerja sebagai wanita nakal dan ia sekarang hidup dengan bapaknya yang tega membuatnya seperti ini. Ia tidak mengusir bapaknya karena ia selalu mengingat kata-kata yang selalu diucapkan oleh ibunya, “bagaimanapun ia tetap bapakmu, Nduk”. Rani pun mengahabiskan malam-malamnya sebagai wanita penghibur. Rani selalu berfikir apakah Tuhan akan memaafkannya dan memihaknya, setiap memikirkan itu Rani ingin berhenti tapi ia selalu menganggap bahwa dirinya sudah terlalu berdosa dan tidak mungkin untuk bertobat. Setiap memikirkan hidupnya seperti itu, Rani selalu berfikir ini adalah kesalahan Bapakku.
Pada suatu hari saat Rani bekerja ia bertemu dengan laki-laki yang membuat hatinya tergugah untuk mencintai seseorang. Lelaki itu bernama Ardi, lama-kelamaan mereka berduapun menjalin hubungan yang serius lebih dari seorang pelanggan yang memakai Rani. Akhirnya merekapun menikah, Rani berhenti bekerja sebagai wanita penghibur. Awal pernikahan Ardi bersikap lembut dan tidak memperdulikan masa lalu Rani tetapi 4 bulan usia pernikahan mereka Ardi selalu datang dengan kondisi mabuk dan marah-marah. Ardi selalu mencaci Rani dengan kata-kata yang sangat menyakitkan bagi Rani. Suatu saat mereka berdua bertengkar di jalan, Ardi mencaci Rani di depan banyak orang, “dasar pelacur, istri tak berguna untung kamu punya suami seperti saya yang mau menjadikanmu istri!”. Saat itu hati Rani sangat hancur melihat tingkah Ardi yang tega mencaci dirinya dihadapan banyak orang. Setelah pertengkaran itu merekapun bercerai. Ranipun kembali mejalani hidupnya sebagai wanita penghibur. Saat itu juga Rani benar-benar yakin tak ada orang yang menginginkannya dan saat itu pula ia menutup hatinya dan tetap bekerja sebagai wanita penghibur.
CHIKI IN MEMORIAN
Pyaaaaarrrrr…….!!!!! Tanpa sengaja ku senggol gelas di maja sampai jatuh ke lantai. Sejenak ku letakkan piring berisi nasi dan ikan itu untuk membersihkan pecahan gelas tadi. Chiko berteriak-teriak di luar rumah karena menahan lapar. Tampaknya dia sudah tidak sabar untuk segera menyantap makanan yang telah ia nantikan. Tanpa banyak buang waktu aku segera keluar membawa makanan. Aku memanggil ”Chiko.... Chiko...” dengan cepat dia berlari mendekatiku. Tanpa banyak tingkah Chiko langsung menyantap makanan yang ku berikan.
Aku berdiri dan beranjak maninggalkan Chiko menuju ke halaman. Ku layangkan pandangan ke semua sudut. Tak seperti biasa aku merasa ada yang aneh. Saat itu ak tidak melihat Chiki. Tidak biasanya Chiko bermain sendiri. Chiki dan Chiko merupakan sepasang sahabat setia yang sangat ku sayang. Di halaman aku memanggil ”Chiki....... Chiki...... Chiki.....” namun tak sesosokpun datang menghampiriku. Aku sangat kawatir karena sampai menjelang sore Chiki tak kunjung pulang. Andai aku bisa, ingin aku bertanya pada Chiko. Namun aku tidak tahu bagaimana caranya berbicara padanya. Yang bisa aku lakukan saat itu hanya menunggu dan berharap agar Chiki segera pulang.
Waktu terus berjalan sampai genap dua hari, namun Chiki tak juga pulang. Semenjak kepergian Chiki aku merasa ada yang kurang. Aku juga kasihan sama Chiko karena ia harus menghabiskan waktunya sendirian. Andai dia bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan, pasti akan berkata bahwa ia sangat kesepian. Aku berusaha bertanya kesana kemari untuk mengetahui keberadaan Chiki. Namun tak banyak informasi yang ku dapat.
Aku mulai putus asa. Aku tidak dapat menemukan keberadaan Chiki. Hanya pengharapan dan pasrah yang berada di pikiranku. Tengah malam menginjak hari ketiga kepergian Chiki, aku berpikir ”jika Chiki menghilang karna diculik kemudian dipelihara dengan baik maka aku rela dan ikhlas. Namun jika dia diculik kemidian dibunuh, maka aku sangat berharap pelakunya mendapat hukuman yang setimpal”. Pagi itu, hari ke tiga Chiki pergi. Pada hari itu aku masih menunggu ia pulang. Namun seharian menunggu tak juga mendapatkan hasil.
Genap hari keempat, seperti biasa aku bamgun pagi. Aku berjalan ke belakang untuk mengambil sapu lidi untuk menyapu halaman. Ku arahkan pandangan ke semua sudut halaman. Tepat di bawah pohon mangga, aku melihat sesosok Chiki tertidur. Aku memanggil ”Chiki......Chiki....” namun dia tak beranjak. Kemudian, aku berjalan menghampirinya. Aku memegangnya namun dia sudah tidak bergerak. Di bagian mulutnya tampak berbusa. Dengan keadaan tubuh yang sangat kurus seperti tidak makan berhari-hari. Keadaannyapun sudah kaku. Ternyata dia sudah mati.
Bersamaan dengan itu, Chiko juga berada di sebelahku. Dia mengendus-endus badan Chiki seakan turut merasa kehilangan. Aku mengangkat Chiki kemudian membawanya ke halaman belakang. Di sana aku membuat lubang kecil untuk mengubur jasat Chiko. Aku merasa kehilangan dan sangat kecewa. Dalam hati aku berkata ” kejam sekali orang yang telah tega meracuni anjing mungil ini”. Chiko pun sekarang harus melewati hari-harinya dengan kesendirian.
Setelah proses pemakaman Chiki selesai, dengan langkah penuh rasa kecewa aku berjalan masuk ke rumah. Sejenak aku berpikir mungkin ini suatu pelajaran buat ku untuk lebih menyayangi dan memperhatikan apa yang aku miliki. Sekarang anjing kesayanganku hanya tinggal Chiko seekor. Aku harus lebih menjaganya supaya kejadian pahit ini tidak terulang kembali. Sekarang Chiko tumbuh menjadi anjing jantan yang penurut, dan sangat setia menemaniku.
KAMARKU
Kamarku adalah tempat mimpiku dan belajarku, juga tempat tidurku untuk melepas lelah. Kamarku dekat dengan jendela yang tiap pagi memancarkan sinar matahari dan angin yang berhembus dengan sejuk lewat jendela kamarku dan kebetulan kamarku depan dan dekat dengan ruang tamu dan teras depan, depan kamarku terdapat pohon mangga yang membikin sejuk dan bikin tidak panas di dalam kamar.
Di dalam kamarku terdapat fotoku dan ada beberapa barang-barang unik, seperti tempat sisir tempat pas bunga, tempat foto-foto yang aku letakkan di tempat tata lemari rias di rumah. Aku sangat menyukai bunga tapi yang sering aku koleksi di rumah adalah bunga mawar, apalagi warna merah. Kamarku sekarang jarang aku tempati karena aku harus kuliah di Semarang. Kamarku tidak pernah aku tempati paling 2 minggu sekali kalau aku pulang ke rumah. Sebelah kiri kamarku terdapat lemari tempat bajuku yang sangat berantakan. Lemari paling bawah buat menaruh celana panjang atau pendek, bagian tengah buat kaos panjang ataupun pendek. Di depan kamarku terdapat TV yang setiap hari buat menonton sinetron, dan buat mendengarkan musik karena aku suka dengerin musik apalagi kalau lagunya dari group band Ungu aku suka banget.
Kamarku termasuk kamar yang paling rapi dan bagus di antara yang lain. Kamarku aku cat pakai warna pink yang merupakan warna kesukaanku. Kamarku sendiri aku bikis sebagus dan seunik mungkin biar aku nyaman tidur di kamarku. Saudara-saudaraku kalau tidur pasti tidurnya memilih di kamarku. Hal itu mungkin karena enak kali ya kamarku? Ranjangku terbuat dari kayu jati, maklum orang desa. Tapi ranjangku termasuk besar karena kamarku juga termasuk luas banget, aku biasa pakai seprai warna hijau atau pink dan selimut warna hijau bergambar.
Kamarku ketika malam terasa panas dan pengap banget, karena tidak ada lubang udara, dan kalau malam tertutup rapat banget hingga sangat panas. Tapi aku suka dengan kamarku itu. Tiap aku tidak bisa tidur, aku pada waktu malam-malam sering banget menyalakan musik sampe-sampe ibuku terkadang marah sama aku. Lampu kamar selalu aku nyalain karena aku takut banget dengan kegelapan karena aku orangnya penakut.
Dulu di kamarku sebelum dibangun adalah bekas gudang penyimpanan pupuk, tapi setelah aku besar kamarnya dibangun dan jadilah kamarku. Kalau aku pulang ke rumah pasti kamarku selalu aku rapiin, tapi aku paling males dengan ngrapiin baju. Terkadang kalau aku di Semarang, aku ingin segera pulang ke desa, karena rasanya rindu dan kangen banget dengan suasana itu apalagi kamarku sangat aku sukai dan aku sayangi.
Analisis Teks Bacaan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa dan berbahasa adalah dua hal yang berbeda. Bahasa adalah alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi, sedangkan berbahasa adalah proses penyampaian informasi dalam berkomunikasi itu. Pembelajaran bahasa, sebagai salah satu masalah kompleks manusia, selain berkenaan dengan masalah bahasa, juga berkenaan dengan masalah kegiatan berbahasa. Sedangkan kegiatan berbahasa itu bukan hanya berlangsung secara mekanistik, tetapi juga berlangsung secara mentalistik. Artinya, kegiatan berbahasa itu berkaitan juga dengan proses atau kegiatan mental (otak).
Membaca adalah proses melisankan lambang yang tertulis. Dari sudut linguistik membaca adalah proses penyandian dan pembacaan sandi. Membaca adalah perbuatan yang dilakukan dengan sadar untuk mengenal lambang yang disampaikan penulis untuk menyampaikan makna. Pendapat lain membaca merupakan metode yang dipergunakan untuk berkomunikasi atau mengkomunikasikan makna yang terkandung pada lambang-lambang .
Membaca adalah suatu proses bernalar (Reading is reasioning). Dengan membaca kita mencoba mendapatkan informasi hingga mengendap menjadi sebuah pengetahuan. Pengetahuan itu sendiri akhirnya menjadi suatu dasar untuk dinamisasi kehidupan, memperlihatkan eksistensi, berjuang mempertahankan hidup, dan mengembangkan dalam bentuk sains dan teknologi sebagai kebutuhan hidup manusia. Umumnya orang membaca itu bertujuan untuk mengerti atau memahami isi atau pesan yang terdapat pada teks seefisien mungkin.
Kegiatan membaca teks bacaan yang dilakukan oleh siswa biasanya banyak dalam teks bacaan digunakan kata-kata tidak baku, oleh karena itu dalam kegiatan membaca perlu adanya analisis teks bacaan agar mengetahui penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam teks bacaan tersebut.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apa yang dimaksud Membaca ?
2. Bagaimana Anlisis Bacaan dalam kegiatan membaca?
C. Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
a) Untuk mengetahui apa yang dimaksud membaca.
b) Untuk mengetahui analisis bacaan dalam teks bacaan.
2. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan makalah ini adalah :
a) Sebagai bahan referensi dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik.
b) Untuk mengetahui teks bacaan yang baik dan benar.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Membaca
1. Pengertian Membaca
Membaca suatu prose yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlibat dalam pandangan sekilas dan agar kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Jika hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang tersurat maupun yang tersirat tidak akan dipahami dan proses membaca tidak terlaksana dengan baik.
Membaca adalah proses melisankan lambang yang tertulis. Dari sudut linguistik membaca adalah proses penyandian dan pembacaan sandi. Membaca adalah perbuatan yang dilakukan dengan sadar untuk mengenal lambang yang disampaikan penulis untuk menyampaikan makna. Pendapat lain membaca merupakan metode yang dipergunakan untuk berkomunikasi. mengkomunikasikan makna yang terkandung pada lambang-lambang.
Aktivitas pencarian informasi melalui lambang-lambang tertulis. Membaca adalah suatu proses bernalar (Reading is reasioning). Dengan membaca kita mencoba mendapatkan informasi hingga mengendap menjadi sebuah pengetahuan. Pengetahuan itu sendiri akhirnya menjadi suatu dasar untuk dinamisasi kehidupan, memperlihatkan eksistensi, berjuang mempertahankan hidup, dan mengembangkan dalam bentuk sains dan teknologi sebagai kebutuhan hidup manusia.
2. Aspek-Aspek Membaca
Secara garis besar terdapat dua aspek penting dalam membaca, yaitu aspek yang bersifat mekanis dan aspek yang bersifat pemahaman.
a. Keterampilan yang bersifat mekanis (mechanical skills) yang dapat dianggap berada pada urutan lebih rendah (lower order). Aspek ini mencakupi :
1) Pengenalan bentuk huruf
2) Pengenalan unsur-unsur linguistik (fonem/grafem, kata, pola klauosa, kalimat, dan lain-lain)
3) Pengenalan hubungan/koresponden pola ejaan dan bunyi (kemampuan menyuarakan bahan tertulis)
4) kecepatan membaca bersifat lambat.
b. Ketrampilan yang bersifat pemahaman (comprehension skills) yang dapat diungkapkan berada pada urutan yang lebih tiggi (higher order). Aspek ini mencakupi:
1) Memahami pengertian-pengertian sederhana, yang meliputi:
· Kemampuan memahami kata-kata atau istilah yang terdapat dalam suatu bacaan.
· Kemampuan memahami pola-pola kalimat, bentuk kata, serta susunan kalimat panjang yang sering dijumpai dalam tulisan resmi.
· Kemampuan menafsirkan lambang-lambang atau tanda-tanda tulisan yang terdapat dalam bacaan.
2) Memahami signifikan atau makna, yang mencangkupi:
· Kemampuan memahami ide-ide pokok yang dikemukakan oleh pengarang
· Kemampuan mengaplikasikan isi karangan dengan kebudayaan yang ada.
· Dapat menyusuaikan kecepatan membaca dengan tujuan yang hendak dicapai.
· Dapat mengevaluasi isi dan bentuk suatu karangan.
· Dapat menyesuaikan kecepatan membaca dengan tujuan yang hendak dicapai.
Umumnya orang membaca itu bertujuan untuk mengerti atau memahami isi atau pesan yang terdapat pada teks seefisien mungkin. Tujuan membaca pemahaman dipaparkan oleh Tarigan (1993:37) sebagai berikut:
1) Menemukan ide pokok,
2) Memilih butir-butir penting,
3) Mengikuti petunjuk-petunjuk,
4) Menentukan organisasi bahan bacaan,
5) Menemukan citra visual dan citra lainya,
6) Menemukan citra visual dan citra lainnya
7) Menarik simpulan,
8) Menduga makna dan merangkaikan dampaknya,
9) Menyusun rangkuman,
10) Membedakan fakta dari pendapat.
Menurut Nababan (1993:164-165) tujuan membaca ialah:
1) Untuk mengerti atau memahami isi/pesan yang terkandung dalam satu bacaan seefisien mungkin, dan
2) Tujuan membaca ialah untuk mencari informasi.
Berikut ini implikasi tujuan membaca yang dikemukakan oleh Fowler:
1) Suatu program pengajaran membaca yang bertujuan untuk:
· menambah kecepatan dan memperbaiki pemahaman;
· mengajar siswa bagaimana menghadaptasi pendekatan membaca terhadap berbagai variasi bahan bacaan;
· memperbaiki pembacaan bagi semua ketrampilan berbahasa.
2) Suatu latihan membaca untuk dapat mengapresiasikan dan memperoleh kesenangan estik dari prosa atau puisi (karya sastra)
3) Program individual yang ditujukan untuk mendorong siswa agar membaca sebanyak-banyaknya dan memungkinkan siswa itu dapt mengembangkan diri menjadi pembaca yang teliti sepanjamg hayatnya.
B. Analisis Teks Bacaan
1. Bacaan
Orang Miskin “Dilarang” Langgar Hukum
Sungguh sangat pelik persoalan negara kita ini, betapa tidak kita sudah 65 tahun merdeka tetapi cahaya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia terasa kian redup bahkan padam sama sekali bagi mereka yang saat ini sedang dililit kemiskinan yang entah kapan mereka akan menjadi rakyat yang makmur-sejahtera.
Contohnya, orang miskin “dilarang” melanggar hukum, sebab orang miskin yang serba hidup susah itu berbuat criminal, maka buat mereka hokum berlaku sangat “tajam”. Namun, hukum sangat “tumpul” bila yang melanggar/berbuat criminal orang-orang berduit/kaya atau para pengusaha.
(Suprayitno, Suara Merdeka : 23 Maret 2010)
2. Analisis Teks Bacaan
a. Judul Bacaan : Orang miskin “dilarang” langgar hokum
b. Penulis : Suprayitno
c. Penerbit : Suara Merdeka
d. Analisis Penggunaan Bahasa :
Tidak Baku Baku
1)
Kian Semakin
2)
Entah Sampai
3)
Criminal Kriminal
4)
Hokum Hukum
Hokum HukumBAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Membaca adalah suatu proses bernalar (Reading is reasioning). Denganmembaca kita mencoba mendapatkan informasi hingga mengendap menjadisebuah pengetahuan. Pengetahuan itu sendiri akhirnya menjadi suatu dasar untukdinamisasi kehidupan, memperlihatkan eksistensi, berjuang mempertahankan hidup, dan mengembangkan dalam bentuk sains dan teknologi sebagai kebutuhan hidup manusia.
Umumnya orang membaca itu bertujuan untuk mengerti atau memahami isi atau pesan yang terdapat pada teks seefisien mungkin.
B. Saran
Dari uraian di atas penulis mempunyai beberapa saran diantaranya sebagai berikut :
1. Dalam proses belajar mengajar hendaknya guru mengefektifkan kegiatan belajar membaca pemahamanteks bacaan.
2. Dalam penggunaan teks bacaan hendaknya menggunakan bahasa Indonesia yang baku.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.Google.com/2009/03/11/ragam-dan-laras-bahasa/. Di Download Tanggal 18 Maret 2010.
http://intl.fragam-bahasa.html. Di Download Tanggal 18 Maret 2010.
Suara Merdeka, Terbit Hari Selasa Tanggal 23 Maret 2010.
Langganan:
Postingan (Atom)